hierofani dalam air dan api


Nyala api dalam semak duri yang dilihat Musa di bukit Sinai merupakan kisah hierofani yang termasyur. Tanah di sekitar semak duri itu menjadi suci karena penampakan Tuhan di tengah ciptaan. Sampai-sampai Musa pun harus melepas kasutnya. Tak diperkenan ia untuk memeriksa suasana hierofani dengan andalkan akal budi semata.


Api dalam hierofani itu membuat Musa juga menutup muka. Tak berani ia memandang walau kesempatan datang. Kemuliaan Tuhan sedemikian menggetarkan hatinya. Di depan hierofani itu, Musa pun menyembah dalam rasa hormat. Hierofani ini pun mendatangkan pengalaman baru bagi Musa.


Api yang biasanya menghancurkan itu, dalam hierofani justru memberi hidup. Ada panggilan baru, ada perutusan baru, yang berarti ada kehidupan baru untuk Musa. Api Ilahi itu tidak memusnahkan tetapi menghidupkan.


Roh Kudus yang turun pada hari raya Pentakosta atau riyaya Panen yang berbeda dengan riyaya Undhuh-undhuh kelihatan seperti lidah nyala api. Menariknya, lidah nyala api yang menghinggapi para murid itu tidak menghanguskan tetapi malah memberi kekuatan dan kemampuan baru. Berwacana dalam berbagai bahasa hingga orang-orang pun dibuat berkumpul. Hal mana berbeda dengan kisah di Sinear yang malah menceraiberaikan orang.


Pada tempat lain, yakni pada hari raya Pondok Daun atau riyaya Undhuh-undhuh, Roh Kudus disimbolkan dengan aliran air hidup (Yoh 7:38-39). Air yang ganas seperti kisah air bah dan Laut Merah, oleh kuasa Yesus diubah menjadi air tenang yang menghidupi. Maka disebutlah dengan air hidup.


Api dan air merupakan bentuk simbolis yang paling kuat dan luas penerapannya. Dalam teologi Kristen, api dan air dikenakan untuk melukiskan eksistensi dan daya Roh Kudus yang secara melimpah turun pada hari raya Pentakosta. Roh Kudus juga yang dimeteraikan dalam rumusan dogma baptisan.


Orang yang dibaptis oleh Roh Kudus dibaptis dengan api dan air. Dibaptis dengan api supaya dalam hati selalu ada energi seperti watak api yang mengobarkan perbuatan baik. Dibaptis dengan air supaya dari dalam hati selalu mengalir aliran air kehidupan.


Alangkah pentingnya simbol api dan air. Karena kehidupan sangat tergantung dari eksistensi keduanya. Tidak mengherankan bila Roh Kudus mewahyukan diri dalam simbol itu. Maka tidak berlebihan kiranya bila demi kebaktian yang makin bermakna, dua simbol paling arkhaik itu laik diberi tempat yang apik.


Itu semua demi lahirnya pengalaman-pengalaman iman yang baru pada zaman ini seperti Musa di depan hierofani. Pengalaman yang membuat Musa mendapatkan cara pandang dan cara bertindak yang baru demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar. |seti



|ilustrasi: https://www.jw.org/id/publikasi/buku/cerita-alkitab/2/semak-duri-yang-bernyala/|