hèr


foto diambil dari tribun jogja, senin 8 mei 2016

mungkin ini mengherankan,
orang masa kini takut air.
padahal kita tinggal di kawasan tropik yang hujannya lebat dan udaranya lembab penuh air.

tapi hujan tengah malam ini memang deras.
terasa banget keanehannya, berhubung ini sudah bulan mei. sudah sebulan memasuki masa kemarau yang diramalkan bakal amat panas dan panjang.

sepanjang pengetahuan saya, rumah orang jawa dulu terpisah-pisah menurut fungsinya, tidak menggerombol seperti sekarang. rumah orang jawa dulu mirip rumah orang bali: suatu pekarangan dengan beberapa bangunan yang digunakan untuk fungsi-fungsi yang spesifik.
ketika hujan turun, orang akan kehujanan sebentar bila hendak berpindah dari rumah induk ke dapur, misalnya.
oleh kebutuhan akan kontinuitas kegiatan rumah tangga, dipaksalah bangunan satu dengan yang lain itu terhubung, sehingga dari pendhapa di depan hingga ke dalem, gandhok, sampai dapur ruang itu nyambung tidak terputus oleh pemisahan bangunan. atap bergandengan, demikian pula lantai bersambungan. tidak takut lagi bahwa air hujan akan menjadi pemisah kegiatan. tidak takut lagi guyuran air hujan menjadi pemisah antar ruang. ini semua berkat penemuan talang, bagian rumah yang perannya besar dalam mengubah wajah keseluruhan rumah.

talang, jalan air, ini dulunya dibuat dari glugu [batang pohon kelapa] yang dibelah dua dan dikerok bagian tengahnya, tapi kemudian diganti oleh bahan dari seng, setelah kita berkenalan dengan bahan import itu melalui penjajah belanda. jadi, perubahan ini belum lama banget terjadinya. integrasi ruang-ruang dan kegiatan dalam rumah jawa tidak dari dulunya ada.

air, dan talang sebagai respons rumah terhadapnya, menjadi faktor penentu perubahan ini.

namun, sebenarnya air dan penguasaannya, sudah lama dikenal oleh para petani jawa. mengelola aliran sungai dan distribusinya ke sawah, bahkan digunakan sebagai strategi perang menguasai kota-kota pantai di masa lalu. di kota pesisir utara jawa, dulu ada pejabat yang diberi nama tirtayasa, yang kelak akan menjabat sultan di banten, yang -dari namanya kita tahu- memang ahli dalam pengelolaan air di masanya.

di akhir pekan baru lalu, herjuna darpita, merayakan 27 tahun statusnya yang baru: naik tahta sebagai raja di yogyakarta, yang kini lebih dikenal sebagai sultan hamengkubuwana X. di upacara peringatan kenaikan tahta itu dipentaskan tari bedhaya tirta hayuningrat yang mengolah pemikiran mendalam tentang peran air. nama yang juga di sandang oleh sang raja sendiri ketika muda: her, atau air.

anto