Harusnya Kita Malu



Lima belas ribu!!! Inilah jumlah peserta Hari Lansia Sinode GKJ yang sudah terdaftar di panitia. Bisa jadi akan lebih dari itu. Lima belas ribu orang berkumpul itu bukanlah jumlah yang remeh. Terlepas dari acara tersebut, jumlah yang sudah terdaftar ini merupakan gambaran peta GKJ secara umum. Ya, GKJ memiliki kekuatan di adiyuswanya! Ini adalah kenyataan yang kita hadapi bersama.

Kekuatan yang saya maksud sebenarnya bukan hanya masalah jumlah, tetapi lebih dari itu : semangat! Ketika panitia Hari Lansia ini berkirim surat pertama kali ke gereja-gereja, para adiyuswa langsung meresponnya dengan kilat dengan membentuk “panitia” lokal. Mereka langsung berpikir tentang transport, peserta, akomodasi, konsumsi, biaya, hingga seragam yang akan dikenakan. Sungguh ini respon yang sangat luar biasa! Kenapa disebut luar biasa? Karena mereka itu adiyuswa yang dikenal memiliki banyak kelemahan secara fisik. Mereka memiliki keterbatasan dalam penglihatan, pendengaran, kecepatan mobilitas, daya ingat, dan masih banyak lagi kelemahan fisik yang  lain. Tapi satu hal yang tidak bisa dipadamkan, yakni semangat! Puluhan bahkan ratusan kilometer perjalanan yang harus ditempuh tidak menyurutkan niat mereka untuk mengikuti acara yang berdurasi tak lebih dari lima jam tersebut.

Sayangnya semangat yang seperti ini tidak dimiliki oleh generasi di bawahnya. Hal yang sederhana adalah masalah disiplin. Kalau dalam undangan tertulis jam sembilan mulai, ya jam itu pula acara dimulai. Belum lagi ketika berbicara masalah koordinasi dan komunikasi. Meskipun pendengaran dan penglihatan mereka sudah banyak berkurang, tapi untuk masalah komunikasi mereka tidak bisa diremehkan. Berita hasil keputusan rapat itu dapat diwartakan dengan sangat cepat dan tepat ke seluruh adiyuswa di gereja. Jika dibandingkan dengan generasi muda yang sangat dimudahkan dengan penguasaan teknologi komunikasi, para adiyuswa jauh lebih efektif dan efisien dalam berkomunikasi. Meskipun tidak menguasai facebook, twitter, whatsapp, bbm.... tapi adiyuswa punya kesatuan hati. Kekompakan. Guyub. Dan ini yang sulit untuk diwujudkan generasi di bawahnya.


Apapun yang terjadi, para adiyuswa tidak hanya perlu untuk diberi ruang khusus untuk berpelayanan serta bersekutu. Mereka layaklah untuk diteladani dalam hal semangat dan komunikasi. Generasi muda harus benar-benar belajar dan merasa malu dengan para simbah. Meskipun semakin lambat karena usia, tapi semangatlah yang menjadi kekuatan mereka. Meskipun semakin suda rungu, tapi guyublah yang menjadi jembatan komunikasi mereka. Selamat merayakan Hari Lansia, Mbah.... (dpp)