Hana Sengkuni


Hana Sengkuni. Itulah yang diingatkan oleh Ki Atma kepada para pembaca hana pada hari Jumat Kliwon, 20 Mei 2016 pukul 08.49. Beta kira apa yang disampaikan Ki Atma ini patut disimak. Apalagi di tengah hingar bingar para paraga hana memaknai kehadiran hana.web.id.

Lihat saja kalau tidak percaya. Betharia Kristine setelah menempuh perjalanan Semarang-Purwodadi dengan naik kereta ditemani Pdt. Dwi Argo justru mentautkan hana dengan ide-ide nirkekerasan. Entah mengapa kata-kata Betharia di depan kamera Sang Maha terdengar mantab. Apakah karena Argo belum mengantuk pada malam itu?

Yang jelas Pdt. Dyan Sunu beda lagi sudut kameranya. "Hana itu sederhana, sehari-hari dan reflektif", katanya. Mendengarkan kata-kata itu, Pdt. Wuri dari Slogohimo hanya senyam-senyum, kelihatan kalau tak punya kalimat penyanggah.

Dengan sedikit bergaya, sembari menonjolkan pisang dan donat, Pdt. David dari Ceper malah memperlihatkan hana yang memadukan tradisi dan kemodernan. Seolah tak mau kalah, sejurus kemudian Pdt. Yahya Tirta Prewita unjuk sajak untuk hana. Diibaratkanlah hana itu seperti bunga yang sedang mekar.

Berbeda dengan generasi yang lebih muda, Ki Atma memandang hana dari filsafat hanacaraka. Dari kajian ini, Ki Atma menemukan visi hana untuk memperbaiki pandangan tentang damai sejahtera.

Nah, masalahnya hana Sengkuni yang tidak cinta damai. Sukanya menebar kebencian. Maka Sengkuni harus diwaspadai. Dialah biang kehancuran Hastinapura. Dia adalah sang penghasut ulung untuk mentahtakan egoisme dan meminggirkan perdamaian dari kancah publik. Hana Sengkuni, yang mesti diawasi. |seti