guru drona

semalem,
drona dijotosi sencaki. 
saya mendengarnya dari radio yang menyiarkan wayang pakeliran yogya, oleh dalang dari toyan wates: ki hadi sugita. setyaki, ksatria dari lesanpura yang mengabdi di dwarawati, diucapkan sebagai sencaki oleh ki dalang tadi. ia, dari lakon satu ke lakon yang lain selalu memusuhi drona, guru dari negeri 'atas angin' yang dipercaya mengajar anak-anak kuru dan pandhu.

itu saya catat karena karena buat orang sala seperti saya, sikap ini mengherankan.
tradisi pakeliran sala atau surakarta berbeda dari yogya dalam mencitrakan drona. 
drona, meski juga digambarkan sebagai guru yang kurang baik, di sala tidak pernah dianiaya dan direndahkan seperti di pakeliran yogya.

budayawan yang mengabdi di kraton surakarta di awal abad ke-20, prof. poerbatjaraka, juga pernah mengeluhkan hal itu. beliau mengidentikkan drona yang di jawa juga disebut kumbhayana itu sebagai agastya, kumbhayoni, batara guru. seorang tokoh historis pewarta budaya dan agama hindu ke tanah jawa, dan yang kemudian diarcakan sebagai seorang brahmana shiwa dengan perut buncit, berkumis dan berjanggut runcing. segenap tanda-tanda shiwa menyertainya dalam ikonografi arca batara guru di jawa. dan satu lagi yang unik: kendhi tempat air, yang dalam bahasa sanskerta disebut droon atau kumbha. dua nama yang kelak menurunkan nama drona dan kumbhayoni.
menurutnya, drona [bukan durna] adalah orang suci. yang darinya mengalir kebijaksanaan yang seperti air mengalir dari kendinya tadi, menjadi panutan bagi para siswa.

pakeliran wayang yang direstui kerajaan memang diwarnai oleh situasi politik sejamannya. bisa jadi, ada alasan tertentu yang membuat pakeliran yogya mencitrakan drona sebagai 'pembawa pengaruh luar yang kurang baik' bagi orang jawa, atau yogya khususnya. pandangan ini bisa jadi pula muncul dari rasa percaya diri bahwa kita orang jawa punya cukup pengetahuan untuk survive di negeri sendiri. tidak perlu guru dari luar. 
dikisahkan, bila anak-anak keturunan kuru tetap setia pada guru drona, maka anak-anak pandhu selain tetap hormat pada guru drona, mereka lebih sering mendengar nasihat moyangnya sendiri, yakni abhyasa atau padmanaba. abhyasa mengambil jarak dari keributan dunia dengan menyepi sebagai mahardhika di gunung sapta arga. dia dikisahkan berumur panjang, dan kelak, setelah perang besar bharatayuddha selesai, "menyempurnakan" jiwa kumbhayana: memulihkan sebagai kumbhayoni, brahmana shiwa seperti semula sebelum ada di jawa.

pada masa kini yogyakarta adalah kota pendidikan terbesar di indonesia. kebanyakan mahasiswa yang belajar di yogya berasal dari luar daerah. apakah guru-guru di yogya lebih baik?

belajar ke luar daerah itu baik. juga keluar negeri.
bukan karena du luar gurunya lebih baik, tapi lebih karena dengan itu siswa dimungkinkan mengambil jarak dengan situasinya mula-mula. mengambil jarak itu penting untuk melihat dengan lebih obyektif, lebih menyeluruh katimbang kecemplung dan hanyut tidak sadar hendak dibawa ke mana.

semalam guru drona dijotosi sencaki.
bukan karena kebencian pada segala yang berasal dari luar, tapi lebih karena keberhasilan belajar cukup ditentukan oleh kemampuan mengambil jarak!
--
anto