Genta Kematian Itu


Genta kematian itu berbunyi lagi. Siapa gerangan sang pembunyi?


Kurang dari empat belas hari, genta kematian itu berbunyi enam kali. Enam keluarga berduka karena ditinggalkan orang tercinta.


Enam tahun tinggal di wilayah Ngentakrejo pola demikian selalu berulang. Tiap kali genta kematian itu berbunyi, pasti tidak cukup satu kali, lalu berhenti. Tidak. Bisa tiga kali dalam seminggu, atau enam kali dalam waktu setengah bulan. Setelah itu, barulah ada waktu jeda. Sampai-sampai ada yang berujar,"Mesthine ngenteni angkutan kebak. Sisan lakune..."


Siang kemarin, ketika ibu-ibu persekutuan pemahaman Alkitab, ada yang meminta supaya Pak Parjiman didoakan.


Pak Parjiman adalah seorang muslim, namun istrinya adalah warga gereja. Sudah lama sakit gula, pernah dirawat di rumah sakit juga. Ketika kami berkunjung dua minggu yang lalu, kondisinya memang sudah memprihatinkan.


Dan, tadi malam Pak Parjiman berpulang. Lagi-lagi genta kematian itu berbunyi. Siapa gerangan yang membunyikan?


Siapapun dia, tentu  tidak ada yang bisa mencegahnya. Kala genta itu berbunyi selalu memberi tahta pada duka. Itu pula yang dirasakan Ibu Wiwit tadi pagi. Duka tak bisa bersembunyi bersamaan pecahnya tangis yang mengharukan. Beta pun hanya bisa diam, sebelum kemudian dalam hati berdoa: "Tuhan, kasihanilah kami." |seti