Diskusi Buku



Ruang MES 56 Post
View this email in your browser

Diskusi Buku | Book Discussion

 

"Cerita Sebuah Ruang
Menghidupi Ekspektasi: Membaca Fotografi Kontemporer Indonesia Melalui Praktik Ruang MES56"


Pembicara | Speaker:
Akiq A.W
Agung Hujatnikajennong

Moderator:
Chabib Duta Hapsoro

Jadwal / Schedule


Jumat, 13 Mei 2016 | Friday, May 13th 2016
15.00 - 17.00 WIB | 3 – 5 p.m.

Tempat / Venue

Bale Tonggoh Selasar Sunaryo

Jalan Bukit Pakar Timur No. 100, Bandung, 40198
Free
"Kisah ruang alternatif mirip dengan kisah hidup orang biasa. Sewaktu-waktu orang akan bosan dan butuh bersentuhan dengan gagasan-gagasan segar."

Pada akhir 90an dan awal 2000an, di Yogyakarta bermunculan kelompok-kelompok anak muda yang mengelola kegiatan, terbitan dan ruang diskusi/pameran yang kala itu disebut dengan ruang alternatif. Dalam ranah seni rupa, kemunculan ruang alternatif ini menandai generasi baru seniman Indonesia yang memiliki kesadaran untuk tidak lagi melihat arus utama sebagai kiblat dan lebih memfokuskan diri pada bentuk-bentuk kesenian yang personal sekaligus memilih aktivisme sebagai jalan keluar.

Ruang MES 56 sebagai eksponen generasi ini merupakan salah satu yang masih bertahan hidup hingga sekarang. Sebagai kolektif seni yang fokus pada fotografi, mereka menyaksikan transisi dari era fotografi analog ke digital, mengalami masa ketika fotografi dipertanyakan status 'seninya' hingga diundang ke biennale seni rupa. Perjalanan kolektif ini tentu saja menorehkan bekas dalam sejarah seni dan fotografi di Indonesia, yang sedikit banyak membentuk kondisi saat ini, dimana fotografi sebagai praktek populer begitu berkembang secara masif sedangkan disisi lain fotografi sebagai medium kesenian begitu stagnan. Disini peran kolektif sebagai agen pengetahuan dan pengembangan kapasitas masyarakat diuji dan secara terus-menerus dipertanyakan.



Buku "Cerita Sebuah Ruang. Menghidupi Ekspektasi: Membaca Fotografi Kontemporer Indonesia Melalui Praktik Ruang MES 56" bisa dipesan melalui situs Toko 56 di http://cargocollective.com/toko56.
 
"The story of an alternative space is similar to the story of an ordinary person's life. Sometime people will get bored and need to interact with fresh ideas"

In the late 90s and early 2000s, groups of young people who organize activities, publishing and exhibition/discussion space emerged in Yogyakarta, which at the time, was often called alternative space. In the realm of visual arts, the emergence of this alternative space marked the new generation of Indonesian artists who were aware of not viewing mainstream as the orientation anymore, and rather focusing themselves more on personal forms of art and chose activism as the way out.

Ruang MES 56, as the exponent of this generation, is one that is still surviving until now. As an art collective focusing on photography, they witnessed the transition from analog photography era to digital, experienced the time when the 'art' status of photography was questioned for being invited to visual arts biennales. The journey of this collective surely left a trace on the arts and photography history in Indonesia, which at least helped in forming the current condition, where photography as a popular practice is thriving in a frightening way; while on the other hand, photography as art medium is quite stagnant. The role of a collective here is as the agent for knowledge, and the development of society's capacity is being examined and repeatedly questioned.

_

The book "Stories of A Space. Living Expectation: Understanding Indonesian Contemporary Photography Through Ruang MES 56 Practices" is available at Toko 56 website on http://cargocollective.com/toko56.
Kontak / Contact
Ries  0818260134


Ruang MES 56
mes56post@gmail.com
www.mes56.com

                   

-- 
anto