empat belas



Angka empat belas, akhir-akhir ini begitu popular. 
Empat belas tahun lamanya Rangga dan Cinta berpisah, disaksikan oleh ribuan mata yang menatap mereka lekat-lekat di masa lalu. Maka pertemuan mereka menjadi drama, tidak hanya di film, namun di benak para penonton setia.
Bagi saya yang masih SD kala itu, “Ada Apa Dengan Cinta?” menjadi sinema yang membekas kuat dalam memori. Maka, empat belas tahun bukan hanya sekedar setting waktu keterpisahan bagi Rangga dan Cinta, melainkan juga bagi saya yang mulai mengenal cinta dan Cinta.

Ada lagi satu peristiwa yang terkait dengan angka ‘empat belas’. Bukan soal cinta. Yang ini soal tragedi. Jauh lebih perih dan liris dibanding air mata Cinta. Seorang gadis berusia empat belas tahun, bernama Yuyun, diperkosa oleh empat belas orang pemuda dan dibunuh di sebuah desa di Bengkulu. Tidak banyak orang yang mendengar gaung kasus ini. Tenggelam oleh maraknya isu-isu lain yang lebih menarik dan lebih dekat dengan pusat media. Bahkan, tentu saja, kalah pamor dengan kisah perjumpaan Rangga dan Cinta. 

Mengapa kisah Yuyun teredam begitu saja? Kisah-kisah yang go public oleh media biasanya adalah kisah yang kena-mengena dengan tokoh terkenal, atau bicara tentang politik dan ekonomi. Tidak ada tempat untuk bicara masalah personal, tentang satu nama yang terlalu biasa, sosok yang tidak dikenal, bahkan terjadi jauh dari pusat dunia media. Ataukah media sesungguhnya hanya memuaskan pasarnya? Pasarnya yang meminta begitu, tidak tertarik untuk hal-hal personal yang menyedihkan, cari yang happy ending sajalah, seperti Cinta dan Rangga. Jika memang itu yang terjadi, maka kisah tentang Yuyun hanya akan menjadi satu dari banyak kisah sedih yang berulang. 

Tentang mereka yang lemah, yang diperkosa dan mati kembali karena sikap apatis dan keterdiaman. Bagi mereka, siapa media yang berani bersuara lantang? 

#nyalauntukYuyun

_betha