emeritasi


Mbah Marto,
seorang penjual bakmi dan nasi goreng, pernah berkata..

Sadean kula niki mpun nguripi kula sabrayat, mila kula uri-uri lestarine" (Dengan berjualan seperti ini saya bisa menghidupi seluruh keluarga, maka saya akan perjuangkan terus sampai akhir). 

Ketika itu saya bertanya, kenapa tetap berjualan di usia tua.
Anak Mbah Marto 5 orang, semua Sarjana dan sudah mandiri. Hidupnya pun sudah berkecukupan ketika itu.
Perjuangan berjualan bakmi dan nasi goreng bersama istrinya selama 35 tahun sudah membuahkan hasil, namun tetap saja beliau memaksa diri berjualan sampai usia tua, di tempat yang sama dengan cara yang sama.

Catatan percakapan itu juga mengingatkan saya hari ini, ketika melihat seorang saudagar sukses tetap menyempatkan membuat sepinggan wajik (sejenis jajanan pasar dari beras-ketan) dan meletakkannya persis di hadapannya setiap hari. Bukan pemandangan yang umum, ketika dalam toko grosir besar kebutuhan rumah tangga, didapati kasir sekaligus pemiliknya menyajikan sepinggan wajik.

Dengan bekerja, manusia mencukupkan kebutuhan hidupnya. Tetapi ketika hidup sudah berkelimpahan cukupkah penghormatan diberikan bagi pekerjaan itu?

Bagi seorang petinju, ketika sudah berumur tentu wajar jika ia memilih berhenti dan menggantungkan "sarung tinju"-nya. Tetapi tentunya sejarah tentang diri dan tinjunya akan selalu dikenang dalam hidupnya.

Bagi orang Jawa "jenang" dan "jeneng" adalah dua perkara yang penting.
'Jenang' (sejenis jajanan pasar) adalah gambaran tentang karya yang menghidupi, sedangkan 'jeneng' adalah ungkapan untuk nama baik dan martabat.
Dalam dua istilah itulah hidup manusia dinyatakan. Keduanya saling menghidupi, tak pernah sekalipun keduanya saling meniadakan.

Ketika sudah mencapai umur 60 tahun biasanya seorang Pendeta akan memasuki masa pensiun. Bulan Juli 2016 nanti, GKJ Baturetno akan melaksanakan Emeritasi bagi seorang Pendeta. Agak sulit memahami persoalan ini bagi saya, karena jabatan dan karya Pendeta tidak dibatasi umur.
Syukurlah saya kembali diingatkan akan kisah mbah Marto ketika beliau sudah berumur ia tetap berusaha menghidupi karyanya ('jenang') yang sudah memberinya martabat dan nama baik ('jeneng").
Emeritasi tentu bukan berarti bahwa seorang Pendeta lalu berhenti berkarya, tetapi mustinya ia mensyukuri waktu kehidupannya dengan tetap menghidupi karya ke-Pendeta-annya.
Tidak ada perhentian bagi manusia yang berkarya, hanya jika ia berhenti bernafas....
(DSP)