Di Bumi Seperti di Sorga

Gunung adalah anomali. Realitas perjumpaan dua dunia. Gunung untuk langit dan bumi. Demikianlah tempat itu selalu menjadi ruang untuk batas ambang, situs bagi kenangan. Perjumpaan demikian selalu menjadi salah satu hal yang difavoritkan oleh agama-agama. Lalu berbagai teologi disusun, cerita dibangun, bahkan sayup-sayup memori. Tentang kepurbaan semesta.

Sorga dalam berbagai tradisi agama tak pernah dipisahkan dari langit. Langit selalu adalah pria, maskulin, adalah jamak, berlapis, maha luas, tempat bersemayam para makhluk Ilahi, dan kekekalan. Sedang bumi adalah perempuan, feminin, tunggal, maha dalam, tempat kefanaan, dan kematian abadi. Pergesekan dua realm ini meninggalkan kesan samar tentang kisah penciptaan. Kisah yang hanya dikenal oleh jalan iman. Karena bagi para sejarawan dan fisikawan yang mereka kenal tak lain selalu kejadian ketimbang penciptaan.

Ketika sorga dan bumi bertemu, maka di sanalah keseimbangan. Dan itulah pusat dari segala ilmu: sosial, eksak, antropologi, kimia, filsafat, teologi. Ketika ketegangan dan senjang itu menghilang, digantikan equilibrium. Titik tenang, tanpa gejolak, tanpa prasangka, yang adalah satu dalamsemua, dan semua dalam satu. Titik ideal.

Pemazmur menggambarkan titik ideal ini sebagai"Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman." Mzm 85:10. Orang sering menganggap kasih dan kesetiaan adalah satu paket. Tidak! Sebagaimana orang berpikir bahwa keadilan dan damai sejahtera itu satu alam, sama sekali tidak. Karena itulah sang pemazmur menyebut bahwa syalom adalah ketika masing-masing bertemu dan berciuman, karena kenyataannya dua hal itu berbeda dunia.

Kasih dan kesetiaan adalah dua hal yang berbeda. Kasih tidak pernah mensyaratkan kesetiaan. Kasih yang sesungguhnya adalah kasih yang bahkan tanpa kesetiaan pun tetap mengasihi. Kesetiaan yang sesungguhnya adalah kesetiaan yang tetap tinggal walaupun tidak dikasihi. Bahkan kesetiaan pada ketiadaan kasih dalam sebuah sistem bisa saja terjadi. Ada sistem-sistem pro kematian yang terus disetiai, dan demikian pun setia. Jika masing-masing saling mensyaratkan, maka kasih itu menjadi bersyarat dan kesetiaan itu pun menjadi bersyarat. Ketika bersyarat maka kasih dan kesetiaan sejati itu menjadi tak lagi ada, karena yang ada adalah jika maka.Keadilah menunjukkan kehadirannya ketika justru tidak ada damai sejahtera. Damai sejahtera menunjukkan bahwa keadilan tidak lagi dibutuhkan. Damai sejahtera yang mengandaikan ada keadilan di sana, bukanlah damai sejahtera tapi negosiasi, dalam bahasa yang lebih tajam kompromi. Keadilan selalu menunjuk pada korban dan pelaku kejahatan, dan kondisi demikian (kejahatan) menunjukkan bahwa damai sejahtera telah absen.

Derrida menyebut ini dalam tulisannya On Forgiveness, bahwa pemaafan yang sejati berarti memafkan apa pun, bahkan yang tidak termaafkan. Pemaafan yang mensyaratkan perubahan perilaku, keadilan bagi korban, sebenarnya bukan pemaafan. Demikianlah Derrida menyebut pemaafan adalah kemustahilan(impossibility). Dengan demikianlah maka ada kontrak atau perjanjian. Perkawinan mengandung perjanjian, komitmen mengisyaratkan perjanjian, relasi antara agama, antar masyarakat adat dan pengembang industri atas wilayah adatnya membutuhkan perjanjian. Kerja mengandung kontrak, beasiswa pendidikan terikat kontrak, ikatan apa pun mengandaikan ada kontrak di dalamnya. Perjanjian ini bisa jadi adalah profan yang hadir dalam sistem sosial masyarakat. Namun bersama dengan itu, inilah satu-satunya kemungkinan dari kemustahilan. Tidak salah jika hubungan antara Allah dan manusia dalam Kitab Suci Ibrani, demikian juga kitab suci Kristen disebut sebagai Perjanjian (berit - bahkan berit olam, pernjanian kekal). Apakah ini remeh dan menyederhanakan? Bisa jadi iya, atau bisa jadi tidak.

Kesadaran dan kehendak atas perjanjian inilah yang menyatukan sorga dan bumi. Jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga. Hanya dengan demikianlah Mzm 85:10. Jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga hanya terwujud jika masing-masing melakukan perjanjian dengan rela dan sukacita. Tanpanya tidak akan mungkin.

_ Gide