cinta sebagai sila bangsa


Driyarkara pernah berkata-kata: "Pancasila itu timbul dari kodrat manusia." Hal ini dikatakan ketika membincang pemikiran Pancasila sebelum 1965. Kodrat manusia diterjemahkan ke dalam Pancasila.


Dikatakan seperti itu karena kodrat manusia itu serba terhubung. Menariknya, keterhubungan itu karena daya cinta kasih. Ini pun sesuai kodrat cinta yang mengadakan. Hal mana berbeda dengan benci.


"Benci adalah peniadaan (negation) dari cinta kasih", kata Driyarkara lagi. Hal ini terjadi ketika manusia menyangkal dan memperkosa kodratnya. Soalnya, ketika manusia taat untuk menjalankan kodratnya, di situlah cinta mengada. Sebaliknya, ketika memungkiri dan memutarbalik, di situ benci bertahta.


Bangsa Indonesia, melalui bapa bangsa kita, memilih cinta sebagai sila atau prinsip berbangsa. Antar manusia Indonesia saling meng-ada-kan, yang berbeda dengan meni-ada-kan. Artinya manusia ada ketika mengakui adanya sendiri sekaligus mengakui adanya manusia lain. Inilah pengertian mendalam dari perikemanusiaan.


Dengan sila perikemanusiaan, yang hendak dikerjakan adalah semua kebajikan yang harus dilakukan manusia menurut hakikat-kodratnya. Dengan berperikemanusiaan, manusia sedang memanusiakan dan mempribadikan sesamanya. Hal ini akan terjadi ketika cinta kasih sebagai pemersatu Pancasila.


Dalam cinta kasih ada rasa hormat, ada pengakuan dan sikap menjunjung tinggi sesama manusia sebagai pribadi. Cinta kasih tidak bisa memperalat yang dicintai untuk kepentingan diri sendiri. Kalau sudah demikian namanya egoisme. 


Pancasila sebagai manifestasi kodrat manusia yang meng-ada-kan cinta, tidak pernah memberi ruang pada egoisme. Insan Pancasila berarti memiliki perikemanusiaan dalam tindak dan wicara. Ketika perikemanusiaan diwujudnyatakan, sejatinya semua orang sedang menyatakan cinta kasihnya kepada Tuhan. |seti



|ilustrasi: http://www.driyarkara.ac.id/2015-11-11-16-47-57/tentang-driyarkara/30-driyarkara-merenungkan-pancasila|