BUNGA


Indonesia memiliki kekayaan bunga yang sangat besar sekali. Tersebar di seluruh Indonesia 60%  atau mungkin lebih dari seluruh jenis (spesies) bunga di seluruh dunia yang jumlahnya lebih dari dua juta. Bahkan ada jenis-jenis bunga tertentu yang hanya ada di Indonesia. Bunga bangkai (raflesia) adalah salah satunya.

 

Agaknya karena akrab dengan bunga maka banyak hal atau peristiwa yang diungkapkan dengan menggunakan sebutan bunga.

Gadis yang menonjol di antara gadis-gadis di desa disebut dengan bunga desa

Hal atau orang yang menjadi percakapan banyak orang disebut "kembang lambe" (jawa), yang dalam bahasa Indonesia bukan disebut bunga bibir, tetapi buah bibir. Mengapa demikian saya tidak tahu.

Kumpulan artikel atau tulisan dengan judul yang berbeda-beda, ditulis oleh beberapa orang, disebut bunga rampai.

Uap air yang  membeku di lemari es disebut bunga es

Tentu saja yang paling disukai banyak orang adalah bunga yang berkaitan dengan bank: bunga tabungan, bunga deposito

 

Meskipun akrab dengan bunga, dan memiliki jenis bunga yang paling banyak dibandingkan bangsa-bangsa lain, belum ada di Indonesia, apalagi di Jawa, ladang bunga yang luasnya 4 ha sebagaimana yang ada di Belanda. Di Kuekenhof, ladang seluas 4 ha itu dipenuhi satu jenis bunga yaitu lily dengan berbagai warna bunganya. Di samping itu, anak-anak kecil di Belanda juga tidak ada yang nakal berulah dengan tangannya (Jawa: nggrathil) memetik bunga di kebun/halaman rumah atau di tepi jalan. Berbeda dengan anak-anak di Indonesia, Jawa yang terbiasa memetik bunga tanpa peduli siapa yang menanamnya lalu membuang begitu saja, seolah bunga itu tidak ada harganya.

 

Bunga memang besar manfaatnya. Orang yang pergi ke makam pasti membawa bunga yang akan ditaburkan di pusara anggota keluarga yang dimakamkan di makam itu. Untuk mendapatkan efek nyaman, karena bau harum, orang menaburkan bunga melati di tempat tidur. Di setiap upacara apa pun jenis upacara itu, bunga menjadi hiasan yang dipajang. Disamping sebagai hiasan, bunga juga merupakan bahan utama ibadah atau upacara keagamaan. Masyarakat Hindu Bali, misalnya, selalu menggunakan bunga dalam ibadah atau upacara keagamaan yang dilakukan. Demikian pula dengan orang Jawa. Sebutan kembang setaman, kembang telon menunjuk kepada pentingnya bunga sebagai sarana upacara. Bentuk bunga melati diabadikan sebagai corak lukisan (batikan) kain truntum. Agama Kristen, yang tidak terlalu mempunyai perhatian pada simbol, tidak memperhatikan peran bunga sebagai simbol dalam ibadah atau upacara keagamaan.  Ternyata GKJ juga belum mempunyai perhatian pada simbol, maka juga belum memanfaatkan bunga sebagai simbol dalam ibadahnya. Kalau memajang bunga dalam ibadah, itu hanya sekedar pajangan, demi keindahan, bukan sebagai simbol.

 

Ki Atma