Borobudur

Borobudur menjadi begitu termashyur, itu hanya karena batu. Batu-batu yang diukir dan ditata begitu rapinya oleh beberapa generasi. Menariknya, batu-batu yang diam membisu itu sejatinya tak mau berhenti bercerita. Cerita tentang makna kehidupan. Dari kamadhatu, rupadhatu, hingga arupadhatu.


Kehidupan mesti dijalani dengan rasa hormat, seperti tercermin dari ritual pradaksina. Berjalan memutar mengikuti arah jarum jam dengan perlahan, mengitari tempat suci, tanpa keterburuan sama sekali. Perjalanan yang walau perlahan namun bertujuan. Karena peejalanan itu memiliki fokus sekaligus lokus.


Enam tahun telah berlalu, kenangan akan pradaksina di Borobudur kala itu kini hidup kembali. Ini terjadi ketika di grup WA HANA ramai diskusi soal adeg Borobudur. Adalah Sang Maha yang membuat batu-batu di Borobudur itu berbicara layaknya Sidharta.


Bahwa penataan batu-batu itu adalah persembahan rasa hormat kepada pundhen di puncak bukit. Budhis yang datang ke pundhen itu membawa rasa bhakti yang tinggi dengan tidak meniadakan keberadaan pepundhen. Batu-batu ditata sebagai pondasi yang memperkuat rasa hormat. Candi dibangun supaya yang telah bersemayam di sana pun nampak lebih anggun. Begitulah kurang lebihnya Sang Maha bercerita.


Cerita yang mencerahkan tentu saja, ketimbang mendengar khotbah dalam acara hari lansia dan perayaan pentakosta adiyuswa se-sinode GKJ, 28 Mei 2016. Sebuah khotbah yang "memunggungi" candi Borobudur.


Padahal banyak hal bisa didapat bila kita mau menghadap Borobudur demi memaknai kehadiran para adiyuswa di sekitaran candi Budha termegah di dunia itu. Rupanya pengkhotbah lupa bahwa di Borobudur, manifestasi penampakan Roh Kudus sudah kerap kali hadir dalam momen-momen khususnya. Sang pengkhotbah lebih asyik bicara sendiri ketimbang lebih dulu mendengar kisah perjalanan menuju pencerahan budi. |seti