bau buku




yang saya suka ketika masuk kantor setelah libur adalah bau buku.
aromanya setara dengan bau biji kopi arabica yang tergiling, membawa asosiasi pada perkerjaan saya yang hidup di antara pustaka: membaca, mencerna, dan menulis.

entah apa penyebabnya, sehingga bila ruangan dengan banyak buku tersekap selama beberapa hari, bau-bau kertasnya menggenang di ruangan. saya bukan ahli kimia, sehingga tidak tahu bahan kimia apa yang menguap dari kertas-kertasnya, dan tidak tahu pula apakah bau itu berbahaya bagi kesehatan kita atau tidak. 
sedap saja bagi saya mah...

mahalnya harga buku saya akali dengan menggeser prioritas.
dan itu berarti juga dengan menambah jam untuk bersamanya, mempercepat cara menangkapnya dan sesegera mungkin dipindah dalam tulisan singkat atau disimpan di berbagai aplikasi dan dikasih tags sana-sini. biasanya kalau bukan evernote ya pocket, dua aplikasi yang menemani selama ini.

buku dan kertasnya itu sobat yang erat.
ada buku yang tidak berkertas, dan karenanya tidak membangkitkan asosiasi apa-apa. buku elektronik yang tanpa kertas hanya berisi informasi belaka, kayak sabak yang ditulisi pakek batu grip atau kapur tulis. bisa gonta-ganti informasi karena gak ada relasi akrab antara informasi dengan mediumnya. bisa dihapus tanpa jejak.

beda dengan buku kertas yang mengekalkan hubungan informasi dengan mediumnya, yang bila mau mengganti informasi juga harus mengganti kertas sebagai mediumnya. oleh sebab itu mengoleksi informasi dalam format kertas bakal punya dampak pada ruang penyimpanannya, sebab nambah informasi nambah kertasnya juga. 

karena keberadaannya yang seperti ini, buku atau arsip tertulis bisa menjadi artefak, yang pada dirinya sendiri tersusun berlapis-lapis jejak historis. jenis kertasnya, teknik jilidnya, harum aroma kertasnya, ukurannya, teksturnya....
umberto eco punya puluhan ribu judul buku tercetak seperti ini dalam perpustakaannya, karena sebuah buku itu bukan sekadar informasi yang mampir pada permukaan halaman-halaman kertasnya. ia melekat di sana, membentuk kompleksitas dunia buku.

masuk ruang kantor dengan aroma kertas seperti itu, seperti diajak masuk ke dalam dunianya buku. iya, dunia dia!

baiklah, mari masuk!
-- 
anto