BATARA KALA

Batara Guru, raja para dewa, di suatu sore bercengkerama (Jawa: ngenggar-enggar penggalih) bersama isterinya, dewi Uma. Berdua mereka mengendarai Andini yang terbang di atas bumi. Mereka berdua menimati keindahan alam. Ketika mereka berada di atas lautan, angin kencang menerjang keduanya, dan menyingkapkan pakaian dewi Uma, sehingga Batara Guru melihat betis dewi Uma. Seketika timbul birahi Batara Guru. Ia mengajak isterinya itu untuk bersanggama di atas Andini. Tentu saja dewi Uma menolak sebab itu bukan waktu dan tempat yang tepat untuk bersanggama. Namun, sedemikian memuncaknya nafsu birahi Batara Guru sehingga keluarlah air benihnya dan terjatuh ke dalam lautan. Ajaib, air benih itu berubah ujud menjadi raksasa yang sakti tetapi sangat rakus. Itulah Batara Kala. Ia sanga rakus. Ia merusak apa saja, menghancurkan apa saja, dan memakan apa saja. Dunia terancam karena keberadaan Batara Kala.

===***===

Klinthing:    Dewa saja kalau cenderung mengumbar nafsu, bisa membawa  akibat yang  fatal. Terlahir Batara Kala yang merusak dunia.
Klathak:     iya, ya. Di jaman sekarang kaum elite juga cenderung mengumbar nafsu, memperkosa ibu pertiwi dengan korupsi dan merusak alam.
Klinthing:        dan rakyat bodoh yang ikut-ikutan bertindak rendah begitu itu.
Klathak:          la, iya  itu hemmmm. Yuyun mati dibantai dan diperkosa ramai-ramai.
Klinthing:     Batara Kala dikurangi kerakusannya dengan dipotong taringnya.
Klathak:       la para pemerkosa mestinya itu diapakan? para perusak alam  mestinya diapakan? Para koruptor mestinya diapakan?


Ki Atma