BAMBANG EKALAYA


Namanya Bambang Ekalaya, bukan keturunan Kuru, bukan anggota keluarga Pandawa atau pun Kurawa, maka ia juga tidak diperbolehkan berguru kepada Dahnyang Drona, yang merupakan guru melulu para darah Kuru, guru hanya khusus untuk para Pandawa dan Kurawa. Padahal Ekalaya ingin sekali berguru kepada Dahnyang Drona. Meskipun ditolak berguru kepada Dahnyang Drona tetapi Ekalaya tidak putus asa. Pulang ke rumahnya Ekalaya membuat patung. Dengan tekun seolah diajar, diarahkan, dikritik tapi juga dimotivasi oleh Dahnyang Droma sendiri Ekalaya belajar memanah di dekat patung Dahnyang Drona. Akhirnya ia menjadi pemahan yang sangat ahli. Meskipun sebenarnya ia otodidak namun ia mengaku sebagai murid Dahnyang Drona.

Di suatu hari, ketika Ekalaya sedang berlatih ia terganggu oleh lolongan anjing. Ia pun memasang tujuh anak panah di busurnya lalu dibidikkan ke anjing itu. ketujuh anak panah itu mengenai satu titik di mulut anjing itu sehingga anjing itu pun mati. Pemilik anjing marah karena anjingnya dibunuh, tapi ia kaget karena anjing itu terbunuh oleh tujuh anak panah yang menancap di satu titik pada mulutnya. Itu menunjukkan bahwa si pemanah mempunyai keahlian yang melebihi kehebatan dirinya. Ia penasaran lalu mendekati Ekalaya. Ia, sang Arjuna lalu bertanya siapa pemanah itu, dan siapa guru yang mengajarinya memanah. Ekalaya mengaku bahwa Dahnyang Drona gurunya. Arjuna iri dan marah sebab ternyata gurunya ingkar janji. Ia mempunyai murid di luar keturunan Kuru, dan murid yang satu ini istimewa melebihi Pandawa dan Kurawa. Arjuna pun menyampaikan protes kecemburuannya kepada Dahnyang Drona.

Menanggapi protes murid kesayangan, Dahnyang Drona menuntut kepada Ekalaya kalau benar ia muridnya mesti bersedia melakukan apa pun yang diperintah sang guru. Ekalaya menyatakan bersedia. Perintah Dahnyang Drona adalah agar ia memotong ibu jarinya. Perintah ini sebenarnya adalah pembunuhan karakter, sebab dengan hilangnya ibu jari Ekalaya kehilangan kemampuan memanah. Di samping itu memang sungguh pembunuhan, sebab perintah itu sama saja dengan perintah agar Ekalaya bunuh diri. Sebagai murid yang patuh pada guru Ekalaya menurutkan perintah Dahnya Drona itu.

Kisah ini, bukankah sebuah contoh bencana pendidikan? Arjuna berhasil dalam belajar. Ia sukses menjadi pemanah jitu. Akan tetapi Arjuna gagal menggapai pembentukan watak luhur yang mengutamakan kejujuran, keadilan, perdamaian; kepribadian utuh sehingga tidak mau dikuasai iri hati dan dengki,  jiwa ksatria yang mengakui kekuarangan diri sendiri dan kelebihan orang lain, moral sehingga tidak mau menggunakan cara tidak bertanggung jawab memenuhi ambisi dan keinginan diri sendiri.  


Ki Atma