Ateisme & Teisme

Ateisme & Teisme
(dua pandangan berbeda yg mesti kita hargai)

Berapa waktu lalu didorong utk memberi komentar thd situs yg memperolok sebuah keyakinan. Saya kurang tertarik. Hanya menghabiskan waktu, juga sebenarnya catatan atau blog semacam itu kurang memberi wawasan baru, selain perasaan menang, pintar, paling benar dan sejenisnya.

Catatan berikut adalah pandangan, mengapa ateisme & teisme adalah dua pandangan berbeda yg harus sama-sama kita hargai. Tanpa menganggap yg satu lebih hebat atau lebih benar dari yang lain. Cara pandang keduanya berbeda. Kesimpulan juga berbeda

"Atheists should be proud, not apologetic, because atheism is evidence of a healthy, independent mind" Richard Dawkins

Tanggapan:
Sedari awal, kekristenan justru menganggap manusia dlm posisi bermasalah. Orang beragama adalah orang bermasalah. Yesus menyatakan, hanya orang sakit yang membutuhkan tabib. " Marilah kepadaku, semua yang letih lesu & berbeban berat". Orang kristen sejak awal diposisikan & memposisikan diri sbg orang berdosa, orang sakit & orang yang menderita yg memerlukan pertolongan. Tanpa kesadaran ini, kekristenan "tidak berbunyi".

Mereka yg tidak menganggap dirinya bermasalah, tentu akan menemui kesulitan dg berbagai cara pandang kristen.

Desain liturgi di gereja juga memakai plot tsb. Masalah itu dirumuskan dalam satu kata "dosa". Dosa adalah konsep penting juga bahan perdebatan yang tak kunjung habis. Sulit memahami & menikmati liturgi gereja di luar pintu masuk ini.

Freud dalam peradaban & kegelisahan manusia dengan jelas menyatakan keraguan & kesangsian bahwa agama bisa menjawab kegelisahan manusia. apakah kegelisahan tsb bersifat obyektif, neuritk atau yg moral sifatnya? Agama sbg rumusan "usang" tidak banyak memberi penjelasan. Agama bukanlah cara pandang terbaik utk memahami manusia & persoalannya. satu hal yg bisa kita petik. Freud tampaknya mengakui bahwa kegelisahan adalah hal yg "embedded", melekat sifatnya pada diri manusia. Dalam Zarathustra, Nietzsche mengunakan kisah sang nabi yg turun Gunung utk mewartakan "khabar baiknya". khabar baik itu adalah, jangan lagi berharap pada tuhan. manusia uber adalah manusia yg bebas dari ketergantungan semacam itu. Ia orang merdeka & bebas menentukan hidupnya. setelah beberapa kali baca, saya menyadari bahwa zathustra mestinya dibaca secara rileks karena memang tidak mudah membaca karya Sastra lama yg terkait konteks & alasannya. Banyak gagasan-gagasan segar yang tak terpikirkan & menantang.

Tapi benarkah manusia dg pengakuan kelemahannya, keterbatasan & kepicikannya adalah suatu aib? Benarkah kalau kita mengaku tidak tahu atau bodoh, sebuah petaka?

Memasuki abad 20, Peter F. Drucker yg bukan filsuf dg jeli merumuskan management sebagai tantangan & masalah pengelolaan hidup yg real. Hidup bukan hanya gagasan abstrak tetapi juga hal kerja & pekerjaan yg mendefinisikan manusia. saya jadi merasa, Nietzsche dengan gagasan yg hebat-hebat bak seniman yg duduk di kursi kesenimannya, namun terasing dari dunia nyata. Drucker tidak memposisikan sbg nabi yg bisa menjawab scr filosofis semua kegelisahan manusia. Tapi hemat saya dia berhasil memberi arti kerja & pekerjaan pada manusia, secara lbh membumi. Gagasan knowledge worker sbg contoh, menjungkirbalikan statemen sederhana -tapi menjungkirbalikan tatanan saat itu- sejarah manusia sbg sejarah persaingan antar kelas, rumusan dua sejoli pertengahan abad 19. Manifesto Komunis, Engel - Marx.

Kita tidak bisa lagi memandang orang semacam Steve Jobs, Jack Ma atau Nadiem Makarim dari kelompok borjuis atau proletar. Kita juga tidak bisa menemukan jejak dia adalah Uberman dalam diskripsi Nietzsche. Mereka juga tidak perlu menyalahkan agama & tuhan utk mencapai kemajuannya. Tetapi kita bisa menjelaskan orang-orang ini sbg knowledge worker yang asset terbesarnya jauh lebih unggul dari barang modal manapun. Dengan gagasan di kepalanya, mereka bukan hanya menciptakan barang & jasa, tapi bahkan menciptakan kebutuhan. kebutuhan yang terlihat abstrak & tak berwujud, namun bisa di monetize menjadi capital & orang berbondong-bondong menggelontokan uang trirliunan rupiah. Nietzsche puitis & romantic, tapi kuraaang canggih. Manusia bukan sekedar aku berfikir naka aku ada, manusia juga perlu bekerja dan merumuskan hidup melalui & di dalam pekerjaan yg dia tekuni.

Gagasan Dawkins ttg manusia ateis adalah bukti bahwa dia sehat scr mental & independen tidak perlu benar menjadi persoalan bagi mereka yg dg segala kerendahan hati mengaku bahwa ia papa, tak berdaya, menderita & memerlukan pertolongan. Lalu dimana masalahnya? Persepsi yang berbeda.


Handaka BM