Aspirasi untuk Esti


Malam itu, 7 Mei 2016 aku bisa bertemu Maria Yohana Esti Wijayati. Beliau adalah anggota DPR RI Komisi X.  Aku tahu itu berdasarkan perkenalannya pada acara syukuran 20 tahun Paguyuban Kethoprak Peni Laras Desa Ngentakrejo. Bertempat di rumah Bapak N Hadiwiroyo.


"Akhirnya bisa juga bertatap muka dengan penghuni rumah wakil rakyat di senayan", pikirku. Sebuah kesempatan yang rasanya belum tentu setahun sekali bisa berulang. Saat yang tepat untuk menjadi pengamat gerak-gerik wakil rakyat.


Ibu Esti mendapat kehormatan untuk memberi sambutan. Ada rasa penasaran, kira-kira apa yang hendak disampaikan. Rumusan baku layaknya pejabat berkata-kata sambutan terdengar tidak asing. Yang membanggakan, sebagai tokoh nasional tetapi beliau tetap menghormati bahasa ibu, bahasa Jawa.


Kesadaran bahwa malam itu para pendengar adalah masyarakat desa, yang lekat dengan kultur Jawa, tidak diabaikan oleh politisi PDI Perjuangan ini. Apalagi ketika acara menjaring aspirasi. Wawancara dilakukan dengan bahasa Jawa ngoko yang makin memperlihatkan keakraban dengan warga setempat.


Kepekaan sebagai seorang wanita ketika yang tergopoh-gopoh naik panggung para lelaki ternyata cukup tajam. "Lha kok mung bapak-bapak? Mangga ibu-ibune...", godanya pada kaum hawa yang membuat tiga ibu-ibu naik panggung juga.


Hal menarik dari sesi ini ketika Bu Esti menanggapi, mengapa warga masyarakat begitu terobsesi dengan sarana fisik. "Lha kok kabeh bab sarana fisik?" Kata-kata yang mengingatkan tentang pentingnya konsepsi revolusi mental Presiden Jokowi. Maklum, aspirasi untuk Esti yang disampaikan malam itu begitu fokus pada pembangunan jembatan Kaliprogo.


Secara halus, politisi yang karir politiknya dimulai dari bawah ini ingin memberikan edukasi tentang pentingnya kekuatan jiwa dalam rangka menuju perubahan yang lebih baik. Ya, bagaimana memulai revolusi mental tetap menjadi pertanyaan di mana-mana. Tugas Esti dan teman-teman komisi X untuk menemukan formulasi bagaimana revolusi mental bisa merasuk ke dalam jiwa-raga insan Nusantara. |seti