akhir bulan di toko buku




mengunjungi toko buku itu asyik.
sama seperti melakukan window shopping: lihat-lihat barang baru, tanpa harus membeli atau memiliki buku-buku yang dipajang di situ.
keasyikannya yang lain adalah karena kita dibolehkan punya peta dari buku-buku yang dianggap mewakili pengetahuan mutakhir, yang lagi ngetrend, yang lagi populer.

begitulah,
sirkulasi pengetahuan itu juga kenal trend. ada yang baru ada yang sudah lalu. dan pengetahuan dianggap melekat di dasar-dasar wadah yang bernama buku. mengikuti trend pun menenteramkan hati, biar tidak dianggap ketinggalan. ada perasaan kita punya posisi dengan cara ini tadi, sebab memiliki banyak buku dianggap oleh kebanyakan orang sebagai punya pengetahuan banyak.

tapi bagi kebanyakan pemilik buku, mereka tidak menganggap demikian.
ilmu itu barang hidup. dia bukan komoditas. dia bukan aksara mati yang tertera di prasasti batu, tapi pernyataan-pernyataan yang hanya hidup atau berarti bila dipahami dan diolah dalam akal-budi pembacanya itu.

akhir bulan seperti ini, membaca buku tetap perlu, meski hanya untuk memelihara posisi biar dikira banyak tahu. bukan dengan membeli buku, tapi hanya baca-baca di sana saja.
buku tidak harus dimiliki, asal isinya sudah bisa dipindah di akalbudi...

bagi saya, akhir bulan di toko buku itu momen genting: belajar tanpa harus memiliki.

[alesan! hihihi]

--
anto