Kala Ahok Nonton AADC2



Beberapa waktu yang lalu, Ahok mengadakan nonton bareng AADC2 dengan mengundang artis, sutradara, dan kru film tersebut. Seusai nonton bareng, ketika dijumpai wartawan dan ditanyakan kesan tentang film tersebut, ada jawaban yang menarik. Ahok mengaku baper (bawa perasaan/trenyuh) pada saat melihat adegan Rangga bertemu dengan…… ibunya! Lho kok malah dengan ibunya? Bukannya dengan si cantik Cinta yang menjadi inti cerita? Inilah hebatnya Ahok. Ia trenyuh dan sangat terkesan dengan perjumpaan Rangga dan ibunya yang sudah lebih dari dua puluh lima tahun berpisah. Benar-benar sudut pandang yang jeli dan melawan arus.

Demikianlah Ahok yang selalu melihat dari sisi yang berbeda. Ia menyoroti bagian yang sebenarnya jauh lebih penting dari apa yang orang secara umum saksikan. Perjumpaan anak dengan ibu yang terpisah lebih dari dua puluh lima tahun itu jauh lebih penting ketimbang masalah cinta-cintaan. Kasih ibu jauh lebih berbobot daripada kasih seorang pacar. Dan Ahok benar-benar mampu melihat film ini dari sudut pandang yang jauh lebih manusiawi daripada sekedar percintaan kekasih.

Pandangan yang antimainstream itulah yang membuat Ahok punya banyak musuh. Saat merelokasi kampung-kampung kumuh, Ahok menggunakan sudut pandang yang sebenarnya jauh lebih manusiawi daripada orang-orang yang menentangnya. Ahok mengupayakan kesejahteraan bersama, bukan hanya warga yang direlokasi, tapi untuk seluruh warga DKI Jakarta. Pola pikir inilah yang tidak dijangkau oleh banyak orang, kususnya mereka yang menentang Ahok.

Seorang pemimpin harus berani melawan arus. Siddharta Gautama memilih menepi, mengasingkan diri di tengah gemerlap kehidupan istana pada waktu itu sebagai wujud empati bagi mereka yang tertindas. Yesus mengajarkan tentang pengampunan tanpa batas di saat orang-orang mabok akan hasrat untuk membalas dendam yang dilegalkan dan bahkan diwajibkan oleh hukum agama waktu itu. Muhammad mengajarkan tentang keadilan kesejahteraan bersama di tengah kehidupan yang penuh kesewenang-wenangan. Dampaknya adalah mereka kemudian dibenci, disingkirkan, dan dianggap sesat. Tapi meskipun demikian, ajarannya akan tetap abadi dan terus dikenang. (dpp)