ahik tak suka akik


Ahik tak punya hubungan langsung dengan Ahok. Sekalipun keduanya hanya dibedakan dengan satu huruf vokal.


Ahok adalah gubernur DKI Jakarta sedangan Ahik adalah anak pungut biyung Emban. Nama Ahik sendiri bermula dari otak-atik seorang janda penjual dhawet. Ia mengidolakan sosok Ahok yang suka menohok dengan jurus dewa mabok. Di sisi lain, suaminya yang mewariskan akik junjung drajat kepadanya sudah tiada.


Anak pungut itu lalu diberi nama Ahik. Seolah ingin merangkum dunia angan akan sosok Ahok dengan realita sunyi ditinggal suami dan hanya ditemani akik junjung drajat. Batu akik yang menurut mitosnya mengangkat derajat orang yang memakainya. Masalahnya, "Mengapa suamiku sampai ajalnya tetaplah seorang tukang kayu?", cerita biyung Emban dalam suatu kesempatan.


Memasuki dunia kisah biyung Emban, sebagai pendeta yang mengoleksi akik, aku pun memiliki kata-kata,"Yung, sapunika drajatipun swargi sampun dipun angkat dening Gusti Yesus wonten ing alam kelanggengan amargi kapitadosanipun dhumateng Gustinipun."


Rupanya kata-kataku berkesan di hati biyung Emban. Apalagi ketika bagian Mazmur 126 aku kutipkan juga. "Wong kang padha nyebar wiji karo mbrebes mili, bakal ngenéni kambi giyak-giyak." Kutipan di atas aku pakai untuk meneguhkan tangisan biyung Emban. Tidak ada air mata yang sia-sia ketika dipersembahkan untuk Tuhan dan orang tercinta.


Empat belas tahun berselang, layaknya film AADC, dalam dunia cerita, Ahik pun sudah tumbuh remaja. Kepada biyungnya, Ahik menyampaikan cita-citanya. Nanti setelah lulus SMU ingin kuliah. "Aku ingin jadi astronom, Yung..." Grubak! Biyung Emban yang hanya seorang bakul dhawet itu pun dibuat terkejut. "Astronom ki panganan apa to Le..." klarifikasinya kepada anak tercinta.


Setelah mempersembahkan kidung kalahayu, biyung Emban masih sulit memejamkan mata. Akik junjung drajat peninggalan suami dipandangi dengan berderai air mata. "Pakmu, Ahik péngin kuliah... apa angen-angené kepengin njunjung drajaté bapa-biyungé, ya Pakmu...?", kata-kata itu pun bergelora bersama tangisnya. Rasa haru, ungkapan syukur, deg-degan menjadi satu.


Maklumlah, sebagai bakul dhawet, darimana kemungkinan menguliahkan anak bisa mulai diimani? Dalam keterbatasannya, biyung Emban hanya bisa berserah dalam doa. "Kanggoku mokal, nanging ing paningale Gusti ora hana kang mokal", batinnya.


Hari berganti hari, memerhatikan Ahik yang gemar membaca, sering pamer kalau sudah selesai membaca buku pinjaman dari Pak Pendeta, membuat biyung Emban bersukacita. Setiap kali ingat cita-cita anaknya dan ketekunan belajarnya, biyung Emban seolah punya tenaga berlipat untuk mengayuh sepeda setiap harinya. Satu misteri yang masih menjadi teka-teki. "Kok Ahik tidak suka akik ya", gumamnya sambil menunggu pembeli dhawet di daerah Nanggulan. |seti