Ada Apa Dengan Indonesia?

Indonesia adalah unik. Terutama kalau dipakai sebagai konteks diskusi soal sekularisasi. Dikatakan unik karena teori sekularisasi yang berkembang di Barat harus mentah ketika dikenakan dalam konteks Indonesia.


Ini semakin meneguhkan pendapat bahwa gejala sekularisasi memang tak berlaku universal. Termasuk terhadap teori bahwa zaman ini merindukan kembalinya yang suci akibat mabok sekularisasi. Tetap ada suatu irelevansi yang terjadi dalam konteks Indonesia.


Kala nilai-nilai duniawi semakin menempati jantung kehidupan akibat gelombang sekularisasi, ternyata melahirkan kerinduan akan kembalinya yang adiduniawi. Sampai-sampai muncul teori kalau abad ke-21 ini merupakan abad kebangkitan agama. Tak heran karena institusi agamalah yang merasa diri paling tahu tentang yang adikodrati.


Zaman Renaissance dirindukan, karena tatanan sosial, arsitektur dan karya seni diresapi yang adiduniawi tadi. Hal mana pasca Pencerahan hal tersebut berangsur-angsur sengaja digusur. Tak heran bila ada yang mengabarkan bahwa tempat-tempat di Eropa sana yang dulunya berfungsi religius, sekarang menjadi pusat kegiatan masyarakat saja.


Indonesia bukan Eropa. Itulah mengapa yang terjadi sebaliknya. Mall-mall, kantor-kantor sebagai area publik malah menjelma menjadi tempat aktivitas keagamaan. Tak ada acara publik tanpa tanda agama. Bahkan, yang namanya menggalang massa untuk unjuk ekspresi keagamaan di area publik dari hari ke hari makin digilai. Itulah Indonesia yang mementahkan teori sekularisasi di dunia Barat.


Sekalipun demikian, bila kembali ke percakapan tentang kerinduan pada kembalinya yang suci sepatutnya tetap dibingkai dalam kesadaran. Jangan sampai mengulangi zaman pembodohan, dengan membungkam penalaran elegan. Kala takhayul dihidupkan dengan atribut agama, maka sesungguhnya itu bahaya. Menariknya, hal demikian menemukan tempatnya di Indonesia.


Berita tentang adanya pendeta atau ustad yang praktik paranormal dengan mengharap nominal hanya mempertontonkan kembalinya abad kegelapan. Saat nalar kritis dibungkam melalui rujukan otoritas tradisi hingga wahyu ilahi yang menakutkan.


Merindukan yang suci, yang sakral, sepatutnya tetap melibatkan akal. Sekalipun semua hal tidak bisa mendapatkan penjelasan serba rasional. Tanpa mengabaikan akal, justru sang misteri akan nampak berseri-seri. Ini berbeda gaya dengan abad kegelapan, yang menggambarkan sang misteri itu serba menakutkan. Dalam rangka ini maka teologi haruslah manusiawi, mengingat yang berteologi tetap adalah manusia. Bukan yang lain. Lagi pula, Sang Sabda aja menjelma jadi manusia.


Karena itu, pada zaman sekular ini, teologi kristiani perlu mengembangkan diri dengan menghormati eksistensi misteri yang berwajah berseri-seri. Teologi macam ini diharapkan memberi sumbangan pada wujud praktik agamawi yang berpijak pada sikap terpesona sekaligus tergetar ketika berhadapan dengan Sang Misteri. Dengan pijakan teologi semacam, diharapkan agama kristiani bukan menjadi penebar ketakutan dengan belenggu dogmanya yang banyak-banyak mencantumkan kata dosa dalam khotbah dan nota ajarannya. Agama kristiani juga bukan penjual simbol dan atribut keagamaan yang memanfaatkan hari raya keagamaan untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya.


Lho kok tulisan ini malah ngomong teologi dan agama kristiani? Di mana irelevansi kembalinya yang suci dalam konteks Indonesia?


Maafkanlah, karena menurut Rm. J. Sudarminta, proses sekularisasi yang lebih pelik sedang terjadi di Indonesia. Mari diamati bersama. Bukankah praktik hidup beragama di Indonesia dengan berbagai bentuk kesalehan ritual yang secara publik ditunjukkan, itu lebih merupakan strategi public relation? Tujuannya mencari sukses dalam urusan duniawi termasuk upaya memperoleh dan mempertahankan kekuasaan politik daripada sungguh sebagai bentuk kesucian sejati.
Para artis yang sibuk mencari guru privat mengaji dan tentu naik haji, tak ketinggalan pula para pejabat publiknya, simbol dan atribut keagamaan dipakai di kursi pengadilan, kok semuanya pantas dicurigai ya?


Jangan-jangan itu lebih karena butuh pengakuan publik sebagai orang saleh sehingga akan menunjang karir dan bisnis. Berbahayanya kalau para pejabat publik memakainya sebagai politik perhatian demi kelanggengan kekuasaan.


Jadi ingat dengan Paul Stange yang menganggap ketika Pak Harto naik haji itu salah satu motifnya juga demi politik perhatian. Banyak yang tahu katanya, kalau Pak Harto itu lebih kental warna kejawennya. Banyaknya benda pusaka yang dikoleksinya dianggap menegaskan hal tersebut.


Ya, mudah-mudahan aja Ahok tidak ziarah ke Yerusalem atau Vatican untuk menunjukkan diri sebagai orang Kristen yang saleh demi melanggenggkan jabatan gubernur. Bagiku, lebih memesona mengingat Ahok yang suka marah dan misuh untuk bongkar kebobrokan ketimbang mengingat para koruptor yang sok alim dan religius. Pertanyaannya akhirnya adalah ada apa dengan Indonesia? |seti


[ilustrasi: http://www.herdi.web.id]