Yasa




saya sedang terpesona pada apa yang diperbuat oleh tukang.

para tukang [dengan ketukangannya] bisa melipat dan menganyam blarak menjadi sesuatu yang baru, yang bisa digunakan untuk berbagai kegunaan: dari kurungan ayam, tikar, hingga dinding dan atap peneduh. bila ia kreatif, ia bisa bikin macam-macam kegunaan dari anyaman blaraknya. kegunaan adalah perkara pemanfaatan, sedangkan yang memproduksi itu semua adalah ketukangan tukang dalam memperlakukan bahan blarak tadi.

sampai saat ini, hal penting yang ingin diketahui orang dari suatu karya kultural adalah "siapa" pembuatnya.
author atau creator memang penting, namun ia bisa menjalankan peran itu setelah ada ketrampilan yang ia asah, olah, latih hingga dia dikuasai olehnya. oleh ketrampilan itu.
seseorang mendapatkan atribut author atau creator setelah ia masuk dan tunduk pada kekuatan ketrampilan. author, creator atau tukang membuat ketrampilannya menampakkan diri. keunggulan tukang ditentukan pada kehalusan, kecepatan, ketepatan, dan berbagai kualitas dalam memperlihatkan ketrampilannya.

kegiatan kultural yang dilakukan oleh tukang itu oleh orang jawa disebut sebagai YASA.
zoetmulder mengenali kata ini dan memasukkan sebagai salah satu lema dalam kamus bahasa jawa kunanya. YASA adalah perbuatan yang menyebabkan seseorang mendapat kehormatan atau kemashuran. suatu perbuatan yang berjasa atau berpahala.

bahasa jawa menghormati perbuatan para pembuat itu sebagai YASAN, karena lewat kesediaan para tukang dalam mengolah YASA itulah sebuah karya kultural terlahir. YASAN bisa sebuah komposisi tembang, musik, tari, bangunan, senjata, upacara dan berbagai produk kultural lain.

bila sebuah YASAN tadi diumpamakan sebagai sebuah komposisi, atau struktur yang terjadi dari menghubung-hubungkan elemen yang lebih sederhana, maka tindakan tukang itu tidak jauh dari tindakan merangkai: menyambung, mengelem, mengelas, mengeling, menopangkan, menjepitkan, menggantungkan, menyusupkan, mengaitkan, mengikatkan, menganyam, merajut, menenun, menderetkan,...

tukang itu perangkai. dan YASAN itu rangkaian, anyaman, atau teks.

kembali, ini bisa berlaku untuk bahan yang berupa kata-kata [sebagai puisi, narasi, atau teks], bisa pula benang yang dianyam menjadi tekstil, bisa juga bata menjadi arsitektur, dsb.

ketukangan tukang itu berkuasa, punya daya.
ia ada duluan sebelum tukang lahir. ia adalah nama lain dari TRADISI. tanpanya, tidak mungkin ada tukang. tugas tukang 'hanyalah' membuat tradisi itu nampak, punya wujud. ia bertugas agar YASAN yang dihasilkan semakin bagus, semakin relavan dengan jaman, semakin berguna bagi kehidupan.
pada hemat saya, tidak ada inovasi tanpa tradisi. tidak mungkin ada YASAN tanpa YASA.
lalu,
bagaimana mungkin kita mengabaikan tradisi, sumber segala inovasi?