"Mas yang doa"


Pada suatu malam, beberapa hari yang lalu, saya makan malam bareng seorang kawan dekat. Ia perempuan. Kami makan nasi goreng di sebuah warung sederhana yang nunut buka lapak di emperan toko.

Sejenak kami bercakap, sampai akhirnya pesanan datang. Nasi goreng hangat tersaji di hadapan kami. Sesaat kemudian saya berniat untuk langsung ngemplok sesendok pertama nasi goreng itu. Namun urung. Apa pasal? Kawanku itu mengajak doa bareng.

Aku sudah lama tak biasa melakukan ritual doa - merem, melipat tangan, menunduk - sebelum makan. Biasanya langsung aja makan apa yg tersaji. Lebih tepatnya, aku punya cara sendiri dalam berdoa, tidak mesti dengan ritual yg sudah mentradisi itu. Itu terjadi karena aku punya penghayatan sendiri atas Tuhan. Akibatnya, caraku berdoa pada-Nya pun beda dari lazimnya manusia. Doa para katak adalah melalui bebunyian, kata de Mello. Seluruh laku hidup ini adalah doa. Ya, itu yg kuhayati, memang. Namun, cukupkah? Tidak!

Aku menaruh kembali sendok yg sudah berisi sejumput nasi. Mengiyakan ajakannya.
"Mas yang doa," tukasnya tegas.
Aku ndak terlalu nyaman melakukan ritual doa di depan umum. Kalo pun mau berdoa, ya sudah, berdoalah sendiri-sendiri tanpa dipertontonkan. Namun, malam itu aku tak kuasa menolak. Ya, ketulusan memang tak bisa ditolak.

Aku pun berdoa. Memimpin ritual doa. Mata kami terpejam, tangan kami terlipat, kepala kami tertunduk. Lalu meluncurlah kata demi kata dalam kalimat-kalimat doaku. Kubuat secepat mungkin agar aku tak terlalu terganggu, dan pelanggan lain tak perlu terganggu pula.

Lalu kami makan. Ia mengawalinya dengan senyuman.

Aku jadi merenung, mengapa banyak orang - termasuk saya - tidak nyaman berdoa di depan umum? Bukankah doa itu kewajaran yg amat lazim, bagi orang beragama (atau setidaknya bertuhan)? Bukankah doa itu adalah ekspresi yg suci? Ekspresi cinta pada yang ilahi. Jadi mengapa malu?

Cara pandang kita, manusia, kadang memang aneh. Di depan banyak orang, ekspresi cinta sering dianggap saru atau wagu (orang berdoa, bergandengan tangan, berpelukan, dsb). Namun ekspresi kekerasan justru mendapat panggung dan disorot media (tawuran, sinotron, bullying, vandalisme, dll). Jadi, mana yang lebih wajar dipertontonkan di depan banyak orang: ekspresi cinta atau ekspresi kekerasan? Nampaknya ini soal ganjalan kultural.

Aku tetap akan jarang berdoa sebelum makan. Lebih tepatnya, tidak berdoa dengan ritual yang sudah mentradisi itu. Namun, aku disadarkan bahwa kita ndak bisa lepas dari tradisi. Sama sekali. Malam itu aku diingatkan lagi mengenai apa yg pernah diungkapkan seorang guru, bahwa perempuan memang jagoan dalam hal menjaga tradisi. Termasuk tradisi berdoa bersama.

_argo