wungkal



ibadah ngopi tadi membicarakan sesuatu yang penting dalam sejarah tapi sering terabaikan: wungkal.

ia seperti liyan: kehadirannya yang tidak tercatat itu justru memperlihatkan bagaimana suatu subyek berperan.

bila pertemuan-pertemuan sebelumnya kami bicara mengenai persenjataan dan kontribusi metalurgi dalam peradaban, maka kami kali ini ngomongin peran wungkal -alat penajam atau pengasah senjata- yang selalu dibutuhkan manakala senjata-senjata itu masih berperan. ia ada dan selalu dibutuhkan, tapi perannya tidak langsung, karenanya sering terabaikan, tidak tercatat, tidak terdokumentasikan.

masyarakat yang menggunakan peralatan logam -baik untuk bekerja di ladang atau di medan peperangan- selalu membutuhkan wungkal ini. video yang dibawa mas marwan memperlihatkan bahwa tradisi perang orang viking hingga jepang kenal batu pengasah pedang-pedang monumental mereka. terlebih pada petani dari peradaban agraris -seperti di nusantara- selalu punya alat-alat logam yang harus selalu diasah ketajamannya oleh wungkal ini. bukan hanya lelaki, namun peralatan dapur ibu-ibu pun butuh wungkal. aliem bilang, orang desa biasa menyimpan wungkal di sekitar dapur, sumur atau padasan rumah-rumah mereka karena wungkal digunakan dengan membasahinya dengan air.

wungkal sendiri umumnya terbuat dari batu endapan.

mas sofwan membawa bebatuan dari masa yang amat silam [5 juta tahun lalu ?] dari kawasan aliran sungai OYA, yang sudah difungsikan sebagai wungkal itu. di pasar, ia tersisih dari antara gerinda dan wungkal lain yang terbikin dari batuan yang lebih muda. batu endapan yang dibawa itu berwarna kecoklatan. ini ditaksir usia tuanya melalui beberapa fosil dari organisma yang membatu bersamanya.

teknik menajamkan peralatan logam dengan wungkal ini ternyata nyaris sama saja, digosok-gosok dengan dibasahi air. itu sejauh saya lihat di viking, jepang pun di jawa. juga untuk kudhi, senjata orang banyumas.

senjata?

ya.

ternyata senjata peperangan itu hanyalah perpanjangan atau penyempurnaan dari peralatan kerja sehari-hari orang kebanyakan. sebelum munculnya elit yang khusus berprofesi sebagai tentara [ksatria], peralatan sehari-hari itu difungsikan sebagai senjata, maka teknik menajamkannya pun sama saja.

inovasi persenjataan rupanya tidak "mak jleg" ada dari tabula rasa, tapi berangsur-angsur dikembangkan dari produk yang sudah ada sebelumnya. dalam proses yang kontinuum ini wungkal mendampingi. wujudnya ya gitu-gitu saja... paling tidak, kayak yang terlihat di video yang dibawa mas marwan itu mirip banget dengan yang kita punya.

bila senjatanya mengalami evolusi, sang wungkal tidak. ia ditinggalkan, diganti oleh bahan dan teknik penajam lain. dan ketika senjata tajam juga mulai tidak digunakan, digantikan oleh senjata lain yang lebih efektif, maka terhenti pula peran wungkal.

mau?
di rumah saya masih ada beberapa buah wungkal dari kudus maupun dari sungai oya. saksi bisu penyambung peradaban agraris dan ksatria. yang pernah melayani berbagai kasta, kini pulang kembali melayani ibu-ibu di dapur.
--
anto