what do pictures want?


apakah media punya kehendak?
bukankah ia "hanya" media, sarana, dan bukan suatu persona?

kadang, pada suatu momen, kita terpaku pada suatu pemandangan alam yang membuat kita haru. dan ketika dipindah ke foto atau sketsa, keharuan itu hadir lagi. foto atau sketsa itu berhasil menjadi sarana penghadiran kembali keharuan aslinya.
tapi representasi bukanlah melulu replika atau mimesis dari keharuan mula-mula yang dialami sang pencipta.

sebab, ada kalanya suatu peristiwa biasa yang ketika dihadirkan sebagai foto atau puisi atau novel ia lalu bikin jutaan orang terharu, tergerak dan berubah hidupnya. ada dampak sosial besar yang terjadi ketika keharuan itu diolah dan disajikan ulang. dari yang semula hanya peristiwa sehari-hari belaka lalu kemudian menjadi penting dan bahkan disakralkan orang.
jadi,
bagaimana asal-usul keharuan itu dijelaskan? dari tiruan atas pengalaman haru dari penciptanya?
lalu apa peran media, hanya sebagai sarana atau kendaraan netral saja, atau justru penciptaan media itulah yang mengubahkan dunia?
entahlah..

mahatmanto