ukiran

ukiran di tempat perbatasan, yakni teritisan


menurut prof. soekmono, kata ukir dalam bahasa jawa diturunkan dari kata wukir, yang berarti gunung, atau tempat suci.
tapi tempat suci di sini yang dimaksud bukan tempat yang bebas dari kekotoran, tapi pengertian asli suci dalam bahasa jawa adalah 'sinengker', yang disendirikan, yang dikhususkan dari selebihnya.
bila ukir itu punya kandungan konsep istimewa, khusus, spesial, maka tempat-tempat yang diberi ukiran itu berarti adalah tempat-tempat yang istimewa nilainya. punya kelebihan dibanding lainnya.

mengukir, dengan demikian, bukan membuat ornamen. bukan menghias-rias agar nampak indah. mengukir pertama-tama adalah menandai suatu lokasi sebagai istimewa, khusus, sinengker. tidak heran bila tempat-tempat pertemuan -yang dikenal sebagai tempa-tempat critical atau genting- dibubuhi ukiran. pertemuan antara tiang dengan balok di situ diberi ukiran, tengah-tengah balok yang adalah tempat dengan lendutan terbesar juga beri ukiran, pintu yang adalah tempat peralihan antara luar-dalam pun diukir.

tempat peralihan adalah juga tempat perjumpaan, adalah tempat genting.
seperti kita tahu, perjumpaan bagi orang jawa itu adalah situasi ambigu, mendua, hybrid, both-and, dan itu sakral, khusus, angker. tempat-tempat peralihan, misalnya tempat jiwa meninggalkan raga [yakni makam] adalah tempat angker. pantai, yang adalah tempat perjumpaan laut dan daratan, pun sakral atau angker. gunung, tempat perjumpaan antara bumi dan langit, adalah sinengker.

karena itu, jangan sembarangan meletakkan ukiran.
jangan membuat yang kudus jadi sembarangan.
ia istimewa!