Tragedi Drupadi



Pandawa dibodohi oleh Kurawa, diajak main dadu. Karena Kurawa bermain curang maka Pandawa tidak pernah menang. Setiap kali akan berhenti untuk berjudi, Kurawa, lewat Sengkuni, membujuk Pandawa untuk meneruskan pertaruhan dadu itu. Akhirnya seluruh harta kekayaan Pandawa habis, dan karena bujukan maut Sengkuni, Pandawa akhirnya memperharuhkan Drupadi, isteri Yudistira. Drupadi, wanita itu dipertaruhkan. Drupadi, wanita yang cantik itu dihargai bukan sebagai seseorang. Ia telah direndahkan menjadi benda yang dipertaruhkan dalam perjudian. Celakanya, Pandawa kalah. Drupadi pun menjadi jarahan Kurawa secara sah. Maka beramai-ramai mereka mempermainkan benda cantik-molek itu. Kurawa, terutama Dursasana, ingin melihat Drupadi telanjang dan menjadi tontonan. Dursasana tidak segan, bahkan dengan garang melepas paksa pakaian Drupadi. Akan tetapi sungguh hebat, terjadi mujizat. Setiap kali sehelai benang dilepaskan dari tubuh Drupadi, sesegera itu juga benang ilahi menutupi raga sang putri. Dursasana tidak berhasil menelanjangi Drupadi. Ia frustrasi dan makin garang ia merobek pakaian Drupadi. Namun, semakin ia garang merobek pakaian sang putri secepat kilat busana baru menggantikan menutupi tubuh indah sang dewi. Dursasana gagal menelanjangi sang putri Drupadi. Karena dipermalukan sedemikian Drupadi bersumpah hanya keramas dengan darah Dursasana. Sumpah itu terlaksana di perang Barata yuda. Dursasana mati di tangan Bima, dan oleh Bima darah Dursasana dipersembahkan kepada Drupadi untuk keramas membebaskan diri dari punagi.

Selama hampir dua dasa warsa ini rakyat Indonesia disuguhi ulah para elit yang menelanjangi ibu pertiwi dengan perilaku korupsi. Seperti Dursasana yang rakus ingin menelanjangi Drupadi pada elit negeri ini tanpa malu melakukan korupsi. Akan tetapi, ibu pertiwi tidak pernah bisa ditelanjangi. Selalu saja ada mujizat ilahi. Para elit yang korupsi dan dengan rapi menyembunyikan perilakunya dengan berbagai macam penampilan keagamaan, kesopanan, kemurahan, keramahan, dsb akhirnya satu per satu terjungkal. Darah mereka akan menjadi bahan keramas ibu pertiwi, untuk membersihkan diri dari kotoran yang menghalangi air susu menghidupi para anak negeri, yang kini masih miskin, tersisih, terhina, mudah dibodohi, tertindas dan sengsara.