Tradisi

"Anak-anak adalah cermin. Kalau mereka berada dalam suasana kasih, kasih itulah yang mereka pantulkan. Kalau kasih tidak ada, mereka tidak mempunyai apa pun untuk dibagikan."
~anthony de mello~

Kata-kata ampuh de Mello di atas dikutip Pdt. Addi Soselia Patriabara dalam artikel berjudul "Mendidik Anak-anak Allah." Artikel itu dimuat di buku Wasiat. Buku renungan untuk keluarga. Melalui de Mello, Pdt. Addi menegaskan pentingnya teladan positif. Teladan demikian akan lahir bila perbuatan baik dilakukan berulang sehingga menjadi kebiasaan. Dari sini eksistensi kekuatan tradisi benar-benar tak bisa dipungkiri.

Manusia hidup membutuhkan tradisi. Agama dan adat terus melanggengkan diri berkat adanya tradisi yang diuri-uri. Tanpa tradisi, agama dan adat mungkin tak bisa lagi beraktualisasi diri. Mungkin juga, tanpa kerelaan mengerjakan tradisi, manusia akan kehilangan makna diri. Namun demikian, kritik tradisi juga sebuah keniscayaan. Itu semua demi makin berkembangnya peradaban menuju cita-cita penciptaan.

Kisah penciptaan layak dipandang sebagai buah cipta dan cinta Hyang Ilahi. Dengan adanya cinta, maka ciptaan menjadi sungguh baik dan amat baik adanya. Artinya, ketika omong tentang tradisi dan dengan mati-matian membelanya, bila dalam tradisi kehilangan cinta-kasih, tradisi itu pasti kehilangan makna.

Kekristenan yang melembaga dalam Gereja sangat kaya akan tradisi. Apalagi bila menilik usianya. Salah satu tradisi suci yang sampai kini dijaga dan dipelihara adalah Sakramen Baptis Kudus. Beberapa Gereja, seperti Gereja Kristen Jawa (GKJ) bahkan melayani baptisan anak.

"Anak-anak orang percaya wajib dibaptis", demikian bunyi pratelan. Atau lebih tepat bunyi ucarana. Pertanyaannya, mengapa baptisan harus menjadi kewajiban? Ketika baptisan dipahami sebagai tradisi suci, kiranya tidak diperlukan lagi pernyataan bahwa baptis berhukum wajib.

Bagaimanapun, mengerjakan tradisi membutuhkan kesadaran. Kesadaran diperlukan justru untuk menjaga kualitas tradisi itu sendiri. Maka kini kusadari bahwa sakramen baptis menjadi tradisi suci, karena sakramen itu adalah tanda kasih dan rahmat Allah yang kelihatan dari cinta Allah yang tersembunyi (deus absconditus).

Berkat rahmat baptisan, kiranya anak-anak itu selalu berada dalam suasana kasih ilahi. Anak-anak orang percaya selalu penuh akal untuk memantulkan kasih sayang manusiawi. Ya, semoga selalu ada ketulusan cinta suci yang mereka bagikan untuk dunia ini. Dan kiranya, semua orang tua yang membaptiskan putra-putrinya, menyadari dalam relung sanubari terdalamnya. |seti