TIWIKRAMA

Dalam lakon Kresna duta, Kresna pergi Hastina dan mengajak Duryudana berunding untuk menghindari terjadinya perang Barata yuda. Kresna menawarkan Negara Hastina, yang sesungguhnya hak milik Pandawa tetapi sudah terlanjur dikuasai oleh Kurawa, dibagi dua. Pandawa rela tidak menguasai seluruh Hastina, meskipun sesungguhnya itu adalah miliknya, tetapi cukup separo saja. Yang separo untuk Kurawa. Akan tetapi, tawaran itu ditolak oleh Duryudana. Hastina mesti dikukuhi dengan pertaruhan apa pun. Kurawa mengira kalau pun perang Barata yuda harus terjadi Kurawa akan mampu mengalahkan Pandawa, sehingga Hastina sepenuhnya tetap dikuasai Kurawa. Kurawa bukan hanya menolak usul Kresna yang sesungguhnya baik bahkan bijaksana itu. Sengkuni, patih yang licik itu, memerintahkan agar Kurawa membunuh Kresna. Menurut Sengkuni kekuatan Pandawa itu ada pada Kresna sebagai penasihat. Kalau penasihatnya sudah tidak ada maka Pandawa akan melemah dan mudah dikalahkan. Oleh sebab itu Kresna yang sedang berada di Hastina dianggap sebagai kesempatan baik untuk membinasakannya. Bagaikan ikan yang sudah masuk ke dalam wuwu, sedemikian mudahnya untuk membunuhnya.

Keluar dari istana Hastina Kresna dihadang oleh para Kurawa lalu dikeroyok hendak dibunuh. Kekecewaan Kresna berubah menjadi amarah. Dalam amarahnya ia berubah menjadi raksasa yang tubuhnya sebesar gunung dengan ribuan kepala yang siap menelan apa dan siapa pun. Kresna tiwikrama. Seluruh Kurawa yang sedang mengeroyoknya terpental ketika sang raksasa menggeram. Ia telah mengangakan mulutnya hendak menelan Hastina. Beruntung dewa Narada melihat kejadian itu, dan ia segera turun ke mayapada untuk mencegah terjadinya bencana. Ia membujuk (Jawa: ngarih-arih) Kresna. Hanya oleh bujukan dewa Narada itu sang raksasa kembali ke ujud semula, Kresna.

Banyak aset negara  yang sekarang dikuasai oleh orang atau lembaga secara tidak sah. Yang mencuat beritanya di DKI. Akan tetapi bisa dipastikan sesungguhnya juga di daerah lain. Ketika aset negara itu hendak diambil-alih kembali oleh ke pemiliknya, orang atau lembaga yang menguasai marah dan bukan hanya berusaha menghindari dari keharusan itu tetapi juga berusaha membinasakan orang yang bertugas mengambil-alih kembali aset negara itu. Agaknya jalan tiwikrama menjadi pilihan. Pejabat negara yang tahu tugas dan tanggung jawab yang ngamuk melawan para perampok aset negara justru diserang bersama-sama, dikeroyok untuk dibinasakan. Namun Kresna menang.

_ki atma