Tirta Cerita


Ini kisah tentang air atau tirta. Namun bukan tirta amrta sebagaimana termaktub dalam Kitab Adiparwa. Ketika para dewa, deitya dan raksasa berkonselebrasi mengaduk samudra. Hingga Dewa Wisnu -salah satu Trimurti- menjelma menjadi kura-kura raksasa sebagai Kurma Avatara demi menjaga keseimbangan Mandalagiri.


Ini tirta cerita. Kisah tentang air untuk baptisan Tantra. Air itu aku kumpulkan dari beberapa tempat ziarah, yang menghormati, memberi tempat dan perhatian pada air.
Mula-mula tirta dari Sendangsono, tempat peziarahan tertua di bumi Jawa.  Waktu mengambil air suci itu, aku belum menjadi pendeta.


Air dari mata air Sendangsono memiliki nilai magis karena sejarahnya. Baptisan pertama di bumi Jawa oleh Rm Van Lith SJ terjadi di Sendangsono. Inilah yang membuat air Sendangsono memiliki riwayat sepanjang hayat. Berbeda dengan tradisi Gereja Kristen Jawa yang tak punya cerita tentang air baptisan pertama untuk orang Kristen Jawa diambil dari mana.


Mata air kedua yang aku ambil airnya adalah Ganjuran. Tempat arca Sampeyan Dalem Sang Maha Prabu Yesus Kristus Pangeraning Para Bangsa bersinggasana. Ternyata, air Ganjuran ini memiliki cerita tersendiri bagi Maclaine Pont. Seorang arsitek keturunan Belanda yang punya sikap sangat positif terhadap warisan budaya Jawa itu dibaptis ulang di Ganjuran menjadi seorang Katolik. Pont pun meninggalkan warisan lama keluarganya yang Protestan, dan menjadi Jawa dalam karya arsitekturnya. Jejaknya adalah Gereja Puh Sarang Kediri.


Mata air ketiga dan keempat yang aku ambil airnya adalah Sendang Sriningsih dan Jatiningsih. Sendang Sriningsih merupakan peziarahan Bunda Maria di bukit Mintaraga, Prambanan. Bukit doa yang menggemakan nama Cipta Wening sebagai nama salah satu Gereja Kristen Jawa. Sedangkan Sendang Jatiningsih adalah tempat doa di tepian Kaliprogo. Tempat yang mentahtakan kata-kata neng, ning dan nung sebagai laku doa.


Menariknya, walau beberapa kali pindah tempat nunut ngeyup, sejak masih menjadi pendeta di GKJ Cipta Wening, tirta dari empat tempat peziarahan itu selalu menemaniku. Barulah aku menyadari betapa air itu pun memiliki narasi tersendiri.


Kini, kumpulan air dari empat penjuru mata angin doa itu menyatu dengan pancernya, tirta dari sumur GKJ Ngentakrejo. Berkat doa Pdt. Yahya Tirta Prewita, air itu kini menjadi tirta suci prewitasari. Air yang sengaja dikhususkan (sinengker) untuk membaptis Tantra Ardhanariswara Acintyabhakti pada Minggu Paskah V, 24 April 2016. |seti