terang di kegelapan


saya tidak mengira,
bahwa di bawah jembatan kewek itu ada kehidupan, ada kegiatan anak-anak muda yang dinamik.

saya tahu itu ketika sepedaan dan nyasar di sekitar jembatan untuk melihat-lihat karya grafiti dalam aksi penolakan 'sampah visual' yang terjadi di ruang publik kota.

di jembatan yang [semula saya kira] gelap itu ada sepeda-sepeda yang diparkir di sana dan suasananya pun enak buat duduk-duduk santai, sementara kesibukan dan kebisingan kota berlangsung cuma beberapa meter di atas dan di sebelah baratnya.

orang sering hanya mengindahkan yang kelihatan. yang ada di tempat terang. kegelapan dibenci dan dikira di sana pasti banyak berlangsung kejahatan. yang dilupa dari argumen ini adalah bahwa terang gelap itu adalah suatu kontinuum, yang tidak bisa dengan tegas dipisahkan sebagai: sini-sana, putih-hitam, kiri-kanan...
jadi, gelap menurut siapa, dari mana? dan sebaliknya terang menurut siapa dan dari arah mana?

ruang-ruang kota, telah secara kreatif diciptakan dengan mengambil bahan dari ruang-ruang sisa, yang tak sengaja, yang tidak diniati untuk direncanakan. ruang-ruang buangan itu telah ditangani secara kreatif menjadi tempat yang tidak kalah menyenangkannya bagi sekelompok anak muda, yang hatinya peka.

--
anto