Teka-teki Jawa

Pikiran kejawen mempunyai suatu ciri religius mendalam, yaitu kesadaran bahwa semua yang ada turut ambil bagian dalam kesatuan eksistensi serta ketergantungan pada suatu prinsip kosmis yang meliputi segala-galanya dan yang mengatur hidup manusia. –
Niels Mulder


Dari tuturan Niels, akhirnya aku merenungkan tentang teka-teki Jawa dalam tubuh Gereja Kristen Jawa. Hal ini membawaku untuk menengok hasil penelitianku bersama Litkom PGI tentang profil GKJ.

Jawa (Djawa) bisa melekat pada tubuh Gereja Kristen Djawa (GKD) tidak secara tiba-tiba. Maklum, Gereja Kristen Jawa –setelah penyesuaian ejaan– sejatinya adalah Pasamoewan Gereformeerd ing Tanah Djawi Sisih Kidoel. Bagi si Gereformeerd, Jawa tidak lebih dari sebuah tempat singgah. Jawa disebut hanyalah sebagai keterangan tempat keberadaan si Gereformeerd. Jangan mengharap lebih! Hal ini jelas memperlihatkan masalah. Ada mentalitas penjajah dalam sosok Gereformeerd di bumi Jawa.


Untunglah, hal ini kemudian disadari. Sebutan Gereformeerd pada 1937 dihilangkan dari nama diri. Jadinya Pasamoewan Kristen ing Tanah Djawi Sisih Kidoel – Sinode Gereja Kristen di Jawa Tengah Selatan. Namun demikian anggapan sebagai Gereja Gereformeerd tetap dipertahankan.


Bila kemudian Jawa menyatu pada tubuh GKJ, tentu memiliki pemaknaan baru. Jawa sungguh menjadi konteks bagi GKJ dalam berteologi. Ini sungguh membawa banyak konsekuensi. Sayangnya jarang disadari. Maka, Jawa pun layak menjadi teka-teki bagi Gereja Kristen Jawa.  Teka-teki yang selalu menantang setiap generasi untuk memecahkannya.


Sekarang, bagaimana warga GKJ memaknai ke-Jawa-annya? Paling tidak diriku. Bagaimana aku, si orang Jawa desa ini memaknai diri sebagai pendeta Gereja Kristen Jawa? Ha?! Bertanya soal makna diri? Apakah usia dan rambut yang makin banyak memutih ini berpengaruh?


Benarlah B.B. Triatmoko, SJ yang menuliskan buah latihan rohaninya. “... pada akhirnya ujung perjalanan adalah sama. Kita ingin bahagia dan hidup penuh makna.” Buah perenungan itu dicapai dalam tingkat pemurnian budi. Ini adalah tingkat pertama dari keseluruhan tujuh tingkat kesadaran. Semua dituang dalam bukunya berjudul Antara Kabut & Tanah Basah.


Refleksi yang menarik sekali berdasarkan kisah Devabrata atau Bhisma putra Gangga. Aku menikmati sekali tulisan Pastur Yesuit ini berkat Latihan Rohani Ignasian yang aku cicipi selain meditasi vipassana 10 hari yang aku lakukan. Kepada istriku aku pernah bilang bahwa buku Romo Triatmoko tersebut melukiskan pergumulan rohaninya sebagai Yesuit yang pasti wajib melahap Latihan Rohani Ignasian. Bahkan aku pun curiga jangan-jangan Pastur Yesuit itu juga mengenal meditasi vipassana. Ternyata itu benar.


Dalam versi bahasa Inggris berjudul Dewfall, perpaduan Latihan Rohani Ignasian dengan meditasi vipassana dijelaskan. Pantas saja, ketika membaca tulisan itu rasanya aku tidak pangling dengan dinamika cerita yang menggambarkan perjalanan spiritual yang rasanya terlalu suci untuk dituliskan.


Jawa, kebatinannya, telah mengundang banyak orang luar negri mengamati. Bahkan Paul Stange antropolog berkebangsaan Australia ini lebih gila lagi. Ia tidak hanya menjadi peneliti tentang aliran Sumarah, tetapi justru mengikuti praktik spiritual salah satu aliran kebatinan itu. Jawa, mengapa begitu memesona?


Benar kata Pak Pradjarta, bagi GKJ jangan lupakan konteks Kejawen. Mungkin itu pula yang telah lama disadari oleh dogmatikus GKJ. Dr. Harun Wijono dan Prof. Dr. Soelarso Sopater. Disertasi keduanya tentang kebatinan. Judulnya aku tidak cukup mampu mengingatnya. Yang menggelitik adalah komentar Prof. E.G. Singgih terhadap disertasi Pak Harun berikut buku legendaris Iman Kristen.


Kurang lebihnya begini: “Kekayaan kebatinan atau mistisisme –[ngelmu manunggal]– Jawa oleh Pak Harun telah “dihakimi” dengan gaya dogmatika yang apologetik coraknya. Agak disayangkan.” Pak Gerrit memang sangat kritis terhadap dogma.


Catatan jurnal dan meditasinya tentang Khotbah Pak Harun cukuplah menjadi acuan.
“Masih teringat khotbah Pak Harun kemarin. “Yang terdahulu akan menjadi terkemudian.” Yang puas dan bangga dengan apa yang telah dilakukannya, yang mulai menghitung jasa-jasa dan pengorbanannya, yang mulai melihat dengan sebelah mata pada orang lain yang tidak bisa mencpai apa yang telah dicapainya (saya malah mau menambahkan: yang bangga dengan “dogmatic certainties” ...), mereka akan mengalami sesuatu yang mengejutkan di kemudian hari. Sebaliknya mereka yang dengan susah payah berjuang dan selalu saja gagal, mereka yang pada malam hari tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis, mereka akan bahagia!”


Coba perhatikan catatan yang di dalam kurung. Aku tak ragu bahwa dosen yang pernah memarahiku gara-gara aku tidak ikut makan bersama di asrama kala itu, memang sangat kritis terhadap dogma. Dari kacamata seorang antropolog, para penganut Protestan –Pak Gerrit juga seorang Protestan– cenderung terperangkap dalam dogma dan doktrin. Itu juga yang dicatat Niels Mulder.


Kepada para pendeta yang ikut program penelitian berteologi lokal, hal ini juga sering disuarakan oleh Dr. Niko L Kana dan Dr. Pradjarta. “Harus hati-hati ketika pendeta mendengarkan pergumulan warga jemaat dalam kapasitasnya sebagai peneliti. Sikap dogmatis dan jebakan pastoral dengan suka memberi nasihat akan membawa kerugian besar dalam pengumpulan data!”


Kembali ke catatan kritis Pak Gerrit terhadap disertasi Pak Harun. Akan berbeda halnya, kalau kebatinan Jawa didekati dengan arif. Kurang lebihnya seperti telah dilakukan oleh J.B. Banawiratma, SJ melalui skripsinya yang diterbitkan Kanisius dengan judul Yesus Sang Guru; Pertemuan Kejawen dengan Injil (1977). Kebatinan diajak dialog. Ruang yang diciptakan bukan ruang penghakiman, melainkan ruang pertemuan dialogis. Cara itu mungkin membantu dalam rangka merasakan getar-getar religiusitas Jawa. |set