Tampak Cantik


"Biasanya seorang gadis akan tampak lebih cantik di kejauhan"
~dewabrata~

Itulah kekaguman Dewabrata kepada Dewi Amba, sebagaimana dituturkan B.B. Triatmoko. Berbeda dengan pengisahan dalam Mahabarata yang mengangkat heroisme, Pastur Yesuit ini lebih mendekatkan kisah cinta Dewabrata dan Amba selaras dengan semangat zaman. Mungkin lebih tepat bahwa kisah itu senada dengan getar suara jiwanya sendiri.

Pengalaman dicintai dan mencintai merupakan sebuah keniscayaan. Walaupun tidak ada ketentuan untuk saling memiliki. Menyadari hal ini tentu menolong sekali. Paling tidak untuk mengerti, betapa cinta manusia memang tidak sempurna. Sekuat apa pun cinta meraga dalam sukma.

Namun jangan salah, cinta yang tak sempurna itu tetap bermakna. Dari ketidaksempurnaan cinta itulah justru lahir banyak kisah. Dari kisah-kasih di sekolah hingga kisah sedih di hari Minggu. Dari kisah yang romantis hingga yang sangat dramatis.

Itu pula yang dialami Dewabrata dan Dewi Amba. Takdir berkata bahwa keduanya tak mungkin bersatu. Sekalipun takdir tak bisa diubah, namun manusia tetap bisa mencari makna diri melalui perjalanan menuju takdir penciptaan. Itulah yang diolah secara apik oleh B.B. Triatmoko lewat titian refleksi perjalanan tujuh tingkat kesadaran jiwa. Sebuah pengolahan batin yang tidak main-main, demi bertemu sang kebijaksanaan batin. Sebuah latihan rohani untuk mendapatkan bunga Utpala biru muda, lambang kemurnian cinta. Dan, semua itu dimulai dari kemurnian budi (cipta wening) sebagai kerinduan terdalamnya.

Semua daya jiwa manusiawi: cipta, rasa, dan karsa berperan aktif dalam rangka memaknai kembali ketidaksempurnaan cinta manusia. Kisah cinta Dewabrata dan Dewi Amba menjadi medianya. Bagi Yesuit yang gemar filsafat ini, kisah cinta Dewabrata-Dewi Amba sejatinya menjelma menjadi milik semua jiwa yang merindukan cinta. Maka demi mendapatkan mahadaya cinta, kontemplasi dalam aksi menjadi pilihannya. Belajar mengenal cinta di dunia nyata.

Masalahnya, cinta adalah misteri. Ketika manusia mencintai dan dicintai sejatinya diajak untuk mengalami misteri ini. Seperti apa yang dialami Dewabrata. Perjumpaan dengan Dewi Amba telah meninggalkan kesan mendalam dalam hatinya. Kini, Dewabrata berhadapan dengan situasi baru. Bertemu Wulandari, gadis kembang desa yang akan dijadikan selir Bupati Danureja. Penguasa tamak pemuja kesewenangan.


Kisah baru pun dimulai. Dewabrata menyadari satu hal lagi. Keagungan jiwa tidak terletak pada martabat lahir, namun pada keluhuran yang memancar dari kedalaman sanubari. Dari sosok Wulandari pula, Dewabrata banyak belajar tentang cinta. Betapa perasaan cinta juga tergantung pada keputusannya. "Ah, seandainya dia belum berjumpa dengan Dewi Amba."

Sayangnya, kini Dewi Amba telah bertunangan dengan Raja Sobalapura. Patah hatilah Dewabrata. Sekembali ke istana Hastinapura, luka hati makin menganga karna sikap ibu tirinya, Dewi Durgandini yang haus takhta untuk puteranya. Demi bakti pada orang tua dan untuk menjaga kemurnian jiwa, Dewabrata pun mengambil sumpah brahmacarya, hidup melajang seumur hidupnya.


Sumpah yang menggetarkan buwana dan istana para dewa. Sang Bunda yang belum pernah dilihat sejak kelahirannya, Sang Ibu yang begitu dirindu, kini menampakkan diri dalam berkas cahaya terang. Ketika ditanya minta kesaktian apa, Dewabrata lebih memilih ikut Sang Bunda. Sayangnya, bukan itu yang dikabulkan dewata. Menyelesaikan panggilan hidup disertai berkat surga, itulah yang diberikan kepada Dewabrata.

Dengan sumpah brahmacarya, bagaimana kemudian Dewabrata belajar mengenal cinta? Lagipula, si cantik Wulandari kini tinggal di istana Hastinapura. 


Benar saja, Wulandari tampak cantik dengan gandewa di tangannya. Penanda bahwa dia telah ahli dalam memanah. Dari filosofi gandewa dan anak panah inilah Wulandari nanti mengerti tentang makna cinta yang lebih besar.


Wulandari diangkat adik oleh Dewabrata, selain sebagai kepala keamanan kerajaan. Kepada gadis cantik ini pula Dewabrata bercerita bagaimana ia jatuh cinta pada pandangan pertama, dan bagaimana dia akhirnya harus menelan kenyataan pahit ketika cinta tertolak. Kisah haru yang membuat Wulandari tersadar. Hidup tetap lebih besar dari sekedar perasaan jatuh cinta pada seseorang. Ia pun bertekad membantu kakak angkatnya menemukan bunga Utpala. Sekalipun untuk itu harus mengorbankan jiwa dan raga.

Dewabrata pun bersemangat lagi untuk menemukan bunga Utpala.  Bunga yang ampuh untuk menyembuhkan banyak hati yang luka karena dendam dan kebencian. Bunga Utpala adalah bunga cinta kasih. Bunga yang melahirkan tenaga suci dalam sanubari untuk membimbing orang menemukan kembali jalan pemurnian.
***

Di perbatasan Hastinapura terjadi pertempuran hebat. Danureja yang telah diangkat patih di Sobalapura mempersiapkan rencana keji membunuh Dewi Amba dengan memfitnah Hastinapura. Untunglah Wulandari mengetahui kejahatan ini.

Pertempuran di perbatasan terjadi berhari-hari. Patih Danureja yang hampir kalah kini menjadikan Dewi Amba sebagai sandera. Sejurus kemudian, sebuah senjata rahasia, keris bermuka ular diarahkan ke Dewabrata.
Craat! Tubuh Wulandari bersimbah darah, jatuh di pangkuan pria pujaannya. "Sekarang aku bisa merasakan detak hatimu begitu dekat. Cukuplah itu bagiku", kata-kata Wulandari sebelum senyum kematiannya tiba. Bagaikan anak panah, ia telah melesat menemukan jalan pengorbanan cinta.

Dewabrata terpaku. Haru pun menyatu. Gadis yang hatinya tampak cantik melebihi parasnya itu telah melindungi jiwanya. Dalam kesadaran itu pula, tubuh Wulandari lenyap, berganti wujud Dewi Tara yang sembari tersenyum menyerahkan sekuntum bunga Utpala. Mata kesadaran Dewabrata pun terbuka.

"Dia mengira bahwa dirinyalah yang mencari Cinta, tetapi ternyata Cinta itu berada dekat dengan dirinya. Bukan dia yang mencari, tetapi Cinta itulah yang menuntunnya untuk menemukannya. Cinta itulah yang mengorbankan diri supaya dia bisa menemukan jalan hidupnya." |seti