Suprihatin

Namanya Suprihatin. Setiap kali berjumpa orang lain ia akan mengulurkan tangan mengajak bersalaman sambil berkata "sugeng riyadi."  Ketika pertama kali bertemu dengannya, kukira namanya sugeng riyadi itu. Ternyata namanya Suprihatin, dan "sugeng riyadi" itu ucapan selamat idul fitri yang dihapalnya dan selalu diucapkan kapan pun juga, kepada siapa pun juga dalam kesempatan apa pun juga.

Suprihatin itu seseorang yang terlahir mengalami keistimewaan, yang sering disebut "keterbelakangan mental." Tetangganya menyebut "ora kebak (tidak penuh)." Sejak 3 tahun lalu ia selalu hadir di gereja. Semula di luar, tetapi kemudian masuk ke dalam gereja dan duduk di bagian belakang. Ia ikut semua gerak jemaat. Kalau jemaat berdiri, ia ikut berdiri. Kalau jemaat tunduk ia ikut tunduk. Ia tidak mengganggu, dan ikut khusuk dalam ibadah jemaat. Entah apa yang ada di benak atau hatinya ketika jemaat beribadah. Sejak 3 tahun itu ia menjadi bagian jemaat, tanpa mempersoalkan status keanggotaannya.  Tadi ia juga ikut beribadah. Seperti biasanya duduk di bagian belakang, diam dengan kidmat, dan setelah selesai ibadah ia mendapat bagian yang sama dengan anggota jemaat, sebungkus kecil tiwul dan secangkir teh hangat.

Tadi pagi, ibadah pkl. 06 warta sabda yang kusampaikan tentang mencintai sepi ing pamrih. Sebagaimana Yesus mencintai kita, kita saling mencintai. Kepada jemaat yang berjumlah 6 orang kusampaikan kotbahku. Ya, memang di gereja ini hanya ada dua keluarga. Yang satu seorang janda, yang satunya lagi suami-isteri dengan anak mereka tiga orang. Setiap minggu mereka semua beribadah. Kalau ada satu saja yang tidak beribadah segera ketahuan, siapa yang hari itu berhalangan beribadah. Kotbahku pendek, yaitu pernyataan kebanggaanku  kepada jemaat yang menerima Suprihatin sebagai bagian dari jemaat tanpa mempertanyakan agama juga keadaan dirinya yang oleh banyak orang disebut "tidak penuh" itu.