sisi puitis iman

Gus Mus membacakan "Sajak Atas Nama” diiringi alunan saxophone Romo Aloysius Budi @matanajwa

Iman bukanlah upaya mempertemukan teks dan sejarah. Iman adalah upaya pencarian pemahaman, bagaimana bahasa dan peristiwa diimbu dengan makna sakral, sehingga menjadikannya jembatan antara sorga dan bumi, kudus dan fana, Tuhan dan manusia. Dalam kaitan ini, teologi lebih dekat dengan seni, ketimbang ilmu eksak. Lebih menggambarkan sesuatu secara imajinatif ketimbang diskursus yang literal. Iman menyentuh sisi puitis dalam diri kita, panggilan yang dalam kepada jiwa yang dalam.

Rasanya, ada yang menjadi jurang sehingga iman berwarna hitam-putih, benar-salah. Tuhan dan umat terasa jauh, ketika teologi melulu soal logika linear mengenai teks dan sejarah. Teologi seharusnya menjadi jembatan pada jurang itu. Tuhan dan umat menjadi dekat. Seni adalah jembatan yang dapat dititi oleh semua. Teologi, oleh sebab itu, lebih dekat dengan seni. Imajinasi bukan dimusuhi, melainkan dirangkul-peluk untuk mencapai intimitas. Intimitas manusia dengan segala. Hyang Hana. Juga sesama dan semesta. Telah lama iman dibangun dengan meninggalkan sisi puitisnya. Teologi ikut bertanggung jawab atasnya. 


_ gide & argo