(SESUDAH) JATUH DARI MOTOR (2)


 Di rumah, aku duduk membersihkan luka-luka dengan obat merah. Saat dibebat luka di jari bisa menutup, syukur tak perlu dijahit. Istri minta tolong tetangga membantu. Aku minta dicarikan mobil, mengantar untuk rontgen. Rasa sesak yang sangat di dada membuatku kuatir kalau-kalau ada tulang yang retak atau patah, bukan sekedar benturan. Kenyataan bahwa aku bisa menggerakkan tangan dan tubuh tanpa nyeri yang sangat menghiburku, “Ah, tak ada tulang yang retak apalagi patah!” Tetapi menurutku, rontgen akan memberiku kepastian langkah selanjutnya yang diperlukan.

               Di RS Darmayu, Ponorogo,  hari Minggu sore, di pelataran IGD Satpam yang membuka pintu dan melihatku susah keluar dari mobil menawariku, “Pakai kursi roda Pak?” “Terima kasih, tak perlu, saya bisa jalan sendiri”. Tak sabar dengan perawat yang mendaftar identitas pasien yang baru datang, aku minta menulis sendiri dataku di kertas. Petugas radiologi harus dipanggil (on call) karena hari libur, “Bisa datang 30-40 menit lagi Pak”. “Oh tak apa, saya tunggu”. Dokter jaga memeriksa kondisiku, aku berikan deskripsi  lengkap keadaanku yang dibutuhkan bahkan sebelum ia bertanya, saat tanya apakah aku ada alergi obat, baru muncul kesulitan karena aku alergi semua obat anti nyeri yang disarankan untuk kasusku. Mau minta morfin kok kayaknya gimana. Iya sudah. “Tanpa obat saja Dok”.

               IGD memang selalu menjadi tempat membangun solidaritas untuk yang sakit dan lemah. Aku bertemu seorang siswa diantar orangtuanya, saat menunggu ia tergolek lemah, panas, lemas, tifus. Juga seorang cucu ditunggui kakeknya, “Sudah diberitahu kalau naik motor jangan main handphone, iya beginilah”. Sebelumnya oleh perawat di kampungnya tangan kirinya sudah dispalk, dan luka-lukanya diobati dan diperban. Wah, masih gagah aku yang masih bisa jalan sendiri.  Akhirnya petugas radiologi datang, aku disinar X-ray, “Tunggu 10 menit hasilnya saya antar ke dokter di IGD”. Akhirnya saat membawa amplop film X-ray ke IGD ia bilang, “Sae Pak balunge, boten wonten ingkang patah”.  Dokter memajang hasil rontgen di lampu, “Hasil bagus Pak, tak perlu penanganan lanjut, kalau mau saya rujuk ke fisioterapi”.  Pulanglah aku balik dari Ponorogo ke Purwantoro.

               Sepanjang perjalanan, lewat telepon, istriku bertelepon membatalkan tugas-tugas memimpin sembahyangan keluarga. Jumat-Sabtu sebelumnya ada tiga warga yang meninggal dunia. Aku sudah menyanggupi untuk bersama mereka dalam sembahyangan brayat yang diadakan. Kesadaran diri mencegahku untuk nekad, sekarang harus istirahat. Masih ada kesempatan lain bersama mereka nanti. Sampai di rumah, dengan param penghangat di punggung dan dada, aku mencoba tidur. Ternyata setiap kali mencoba berbaring, sesak makin menjadi. Akhirnya hanya dengan duduk saja. Aku sudah disuruh untuk pijat, tetapi mengingat Mbah Demin yang kupandang cakap memijat sudah meninggal dunia tahun lalu, aku menolak, sambil berharap, keadaan besok akan lebih baik.

               Pengharapan memang selalu menjadi kekuatan saat sakit. Besok sembuh. Sakit berkurang dan hilang. Besok pulih. Tetapi kenyataan yang terjadi berbeda dari doa permohonan dan pengharapan yang dipinta. Hari demi hari berikutnya adalah cerita sengsara. Adakah kita bisa memilih menjalani hidup hanya yang sukacita dan senang gembira saja?