Serba-serbi Cinta


‘Cinta’ adalah jawaban umum yang diberikan orang ketika ditanya alasannya mengapa ingin menikah. Pasangan yang sedang jatuh cinta memperlihatan kemesraan mereka di berbagai kesempatan. Pesan yang disampaikan sangatlah jelas. “Kami saling mencintai, itu sebabnya kami akan menikah.”


Namun, benarkah yang mereka rasakan itu cinta? Apakah cinta yang mereka rasa itu cukup kokoh untuk membangun rumah tangga? Bagaimana mereka dapat tahu bahwa cinta yang mereka miliki tak akan pudar? 


Cinta memiliki serba-serbinya. Ada beberapa jenis cinta yang menarik untuk dikenali, karena semua orang mengalami dan merasakannya. Hanya saja tidak semua menyadari perbedaannya. Ada cinta emosional, cinta persahabatan, dan cinta komitmen. Dengan menyadari perbedaannya, tentu membantu dalam rangka mengalami dan merasakan cinta sebagai anugerah Tuhan.


Cinta Emosional: Perasaan Menggebu


Cinta emosional merupakan perasaan sayang yang meluap-luap, seringkali mengalahkan pikiran rasional seseorang. Sifat cinta ini sementara, berubah-ubah layaknya perasaan. Perasaan ini ditunjukkan melalui segenap indera yang dimiliki manusia: pandangan mata, sentuhan, penciuman, pendengaran. Hal ini terlihat pada pasangan yang jatuh cinta. Mereka bergandengan tangan, mencium, memeluk, melempar pandangan penuh arti. Melalui itu semua, mereka saling mengirim pesan: “Aku mencintaimu”.


Cinta jenis ini memang menyenangkan. Orang menggambarkan sejuta rasanya. Membuat orang yang merasakannya bersemangat dan menggebu-gebu. Di situ juga terletak hasrat atau nafsu. Namun, cinta emosional saja tidak cukup untuk menikah. Mengapa? Karena perasaan ini datang dan pergi. Terkadang begitu kuat terasa. Sebaliknya, ada kalanya terasa hambar. Mereka yang menikah hanya bermodal cinta jenis ini seringkali berakhir dengan perceraian. 


Alasannya karena sudah tidak cinta lagi. Cinta emosional adalah cinta dengan syarat. Perasaan ini muncul ketika seseorang menerima lebih dulu: “Aku mencintanya karena dia baik; dia tampan; dia pengertian; dia cerdas; dst. “ Aku sudah sepantasnya mencintaimu karena aku telah menerima kebaikanmu; gengsiku naik ketika berjalan denganmu karena kamu cerdas dan tampan.” Aturan mainnya adalah aku menerima (cinta), maka aku memberi (cinta); aku memberi (cinta), hanya jika aku sudah menerima (cinta).


Cinta emosional memang anugerah Tuhan. Perasaan inilah yang membuat seorang laki-laki dan perempuan saling tertarik. Ini juga yang mendorong mereka melakukan hubungan intim. Hubungan intim memperkuat perasaan cinta yang ada di antara mereka. Namun, ketika hubungan ini dilakukan sebelum menikah, justru menjadi masalah.


Mereka berhenti pada perasaan ini dan tidak mengupayakan cinta persahabatan dan komitmen untuk bertumbuh. Padahal, yang membuat suami mempertahankan rumah tangganya meskipun isterinya lumpuh bukanlah hasrat cinta yang menggebu-gebu, melainkan kesetiaan dan komitmen. “Aku menerima engkau menjadi suami/isteriku di kala sakit ataupun sehat; di kala miskin maupun kaya; di kala duka maupun suka…” yang membuat janji ini menjadi nyata bukan sekedar cinta emosional.  


    
Cinta Persahabatan: ‘Klik’


‘Klik’ merupakan kata yang cocok untuk menggambarkan cinta di antara sahabat. Seorang filsuf pernah berkata, kalau Anda tidak bisa ‘ngobrol’ dengan orang itu dan ‘nyambung’, maka jangan harap dia bisa menjadi suami/istri Anda. Maksudnya, kehidupan pernikahan isinya bukan hanya momen romantis. Hal itu hanya bertahan pada tahun-tahun awal perkawinan. Oleh sebab itu dibutuhkan cinta yang lain untuk mempertahankan kehidupan rumah tangga.


Sahabat adalah tempat untuk berbagi segala sesuatu, berbagi hidup. Dengan sahabat, seseorang bisa berbagi rahasia, impian, cita-cita, harapan, mencurahkan isi hati. Lebih dari itu, dengan sahabat, seseorang juga bisa berbagi kesedihan, ketakutan, kecemasan. Ada saling percaya. Orang tahu bahwa sahabatnya akan mengerti perasaannya dan peduli. Anda merasakan sahabat anda selalu mendukung Anda untuk meraih keberhasilan. Dan sahabat juga dapat merasakan kegagalan yang dialami sahabatnya.


Orang bebas menjadi diri sendiri di hadapan sahabatnya. Dia tidak perlu merasa sungkan atau takut kelihatan bodoh dan jelek di depan sahabatnya. Ini terjadi karena dia tahu bahwa sahabatnya menerima dia apa adanya. Seorang sahabat tidak banyak menuntut. Sebaliknya, sahabat selalu menunjukkan pengertian tanpa batas. Saling percaya dan pengertian inilah yang membuat dua orang yang berbeda mampu hidup bersama.


Cinta sahabat menumbuhkan rasa aman dan nyaman terhadap satu sama lain. Hal ini menjadi prasyarat bagi seseorang untuk tetap bertumbuh meskipun ia sudah menikah (bukan lagi dua, melainkan satu). Bahkan ia mampu menjadi orang yang lebih baik karena suami/isterinya itu. Ia dapat melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak dapat ia lakukan ketika masih hidup melajang. “Aku cinta kamu karena aku membutuhkanmu”.


Cinta Komitmen: Pengorbanan


Bukan, “Aku cinta kamu karena …”, melainkan “Aku cinta kamu walaupun …” Cinta komitmen adalah cinta tanpa syarat. Bukan cinta karena menerima sesuatu, melainkan cinta untuk memberi. Tetap memberi kendati tidak menerima apapun. Tetap mencintai meskipun orang itu tidak layak untuk dicintai.


Cinta jenis ini nampak dalam cinta Tuhan kepada manusia; cinta Yesus kepada umat. Dia mencintai demi kepentingan orang lain. Di situ terdapat pengorbanan. Kekuatan cinta terletak pada tindakan pengorbanan.


Dalam cinta jenis ini terdapat kesetiaan dan tanggung jawab. Janji sehidup-semati yang mengikat seorang laki-laki dan seorang perempuan. Ini berarti Anda sadar bahwa Anda telah menjadi milik seseorang dan sebaliknya.


Anda bertanggung jawab atas kebahagiaan suami/isteri Anda dan sebaliknya. Apapun yang terjadi, Anda memutuskan untuk bertahan dan terus mencintainya. ~wth~