sepucuk surat



Sekedar mengenang sepucuk surat yang pernah terikirm dan terbalas


Ki Atma yang baik,
waktu rekan pendeta SR berangkat ke VU Amsterdam bulan lalu, aku nulis puisi ini, dikirim juga ke rakan pendeta SR di UU Utrecht eh ternyata juga merasa puisi ini akan pas untuk Ki Atma.
ditunggu kedatangannya ke tanah air bag-bagi berkat!

tertulis di Purwantoro, 28 Agustus 2002

kawanku,
siapa menyuruhmu sekolah lagi?
untuk apa kembali pengembaraan ini?
setahan apa perlu menguji batas-batas ketabahan diri?
patutkah membayar harga sementara berpisah dengan anak istri?

pertanyaan demi pertanyaan itu
lepaskah mereka seperti kawanan merpati menyerbu cakrawala
karena itu tanda kegelisahan sesorang pencari
bak kawanan merpati terbang memburu awan segala warna
kelak akan menemu tingkat bersarang, pergi dan kembali

sering memang, ketaguan hidup begitu membayangi
tak seperti matahari yang terbenam tapi pasti terbit lagi
ia datang seperti musim berganti
tapi perlawanan hanya milik yang berani bertanya
dan keteguhan hanya dipunyai yang berani bermimpi

selamat belajar,
memang tidak mudah menjadi manusia,
yang tidak tunggu nanti walau sendiri
yang berani berjaga sambil terus bermimpi

hidup memang bukan hanya soal kepastian kini
yang harus terus dipegangi supaya tak lepas lari
masa depan itu menanti, pasti, dan bersinar menjanji
maka pemimpi, jangan takut sepi,
maka pemimpi, jangan tunggu nanti
teruslah sambil berjaga dan jangan sambil tidur kawanku

mengingat ulang jauhnya sudah perjalanan
mengingat ulang beratnya mencintai
menginat ulang pahit dan pedih cawan kehidupan ini
sungguh kukagumi jiwa pemberontak
kepak sayap merdeka yang terus tak patah
menari-narikan kebebasan tak terperi

kutunggu nanti,
bukan lagi terbang kawanan merpati
tapi elang terbang melayang ke sarang
kapal berlabuh merapat di pelabuhan
ziarah ulat untuk menjadi kupu
kepak-kepak sayap murai merdeka
dan arus yang mengali kepada telaga bening sejuk segar
yang kutahu adalah jiwamu

salam dan doaku,

pemulung kata-kata



em-mail mas Yahya itu  kutanggapi dengan geguritan di bawah ini

mas Yahya, si Pemulung cerita terkasih.
kutuliskan geguritan di bawah ini sebagai jawabanku terhagap lagumu


SUKET TEKI

suket teki,
mblader ing endi-endi
mblasah ing sawah
ewon ing kebon

iku kudu dibedholi, 
lhoooooo!!
jalaran iku tanpa pengaji,
wooooo!!
jalaran iku mung ngregedi
ah!

Suket teki
ing kraton ora ana
ing daleme para priyagung ora kena,
papane mung ana ing padesan
utawa ing wengkon pinggiran
ah!

Suket teki,
iku suket sekti
jebolen saiki sesuk esuk thukul nuli,

Suket teki,
nadyan mung suket teki,
uga kepingin asung puji mring Gusti,
uga kepingin melu memayu hayunung bumi

pangrantunan, 23 oktober 2002
Ki Atma