Sensasi

"Kalau hanya sensasi yang bisa mengusik hati, jiwa untuk hidup berkurang, sehingga kita tak punya rasa kekaguman."
~P. van Breemen SJ~

Berapa kali kalimat di atas harus kubaca untuk kucerna? Entahlah. Yang jelas kata-kata di atas benar-benar mengulas sebuah kebenaran. Hati-hati dengan sensasi. Apalagi sibuk sana-sini mencari sensasi. Ingin bikin khotbah atau mendengarkan khotbah yang sensasional.

Bila hanya sensasi yang dikejar, tak banyak hal orang dapat belajar. Belajar tentang hal biasa yang menyembunyikan perkara luar biasa. Belajar tentang rutinitas yang menyembunyikan kekuatan aktivitas.

Dalam homilinya, St. Agustinus menyampaikan permenungan menarik berdasarkan kisah mukjizat pelipatgandaan roti. Orang banyak pun kagum karena mukjizat itu. Sayangnya, mereka menganggap biasa terhadap makanan yang tersedia setiap hari bagi mereka.

Ketika mengajarkan tentang berdoa, Tuhan Yesus menyertakan pentingnya memohon rezeki setiap hari. Tuhan menyadarkan arti penting irama kehidupan yang ada di dalam hal yang rutin. Akhirnya, doa pun menempati bagian penting dari rutinitas kehidupan. Pantaslah bila doa bapa kami dipersembahkan setiap hari. Entah itu dalam puja kala fajar maupun dalam puja kala senja.

Doa rutin, memang bukan doa sensasional. Bukan doa yang penuh kejutan pula. Doa rutin hanyalah sarana membiarkan diri ini dicintai Tuhan Allah. Alasanya satu saja, sebab Allah adalah Cinta. Maka biarkanlah, Allah tetap Allah yang selalu mencintai melampaui segala rutinitas dan tradisi. |seti