semedi


Salah satu warisan leluhur Jawa, yang disampaikan lewat bentuk rumah, layak diduga sudah hilang. Warisan itu adalah tradisi atau kebiasaan semedi atau meditasi. Yaitu mengkhususkan waktu untuk mengalami hening (Jawa: ening). Tidak ada omongan, bahkan batin pun diam, pikiran juga diam atau berhenti. Orang di jaman sekarang, terlebih kaum muda, tidak mengenal semedi. Sangat mungkin hal itu disebabkan tidak ada yang memperkenalkan semedi kepada kaum muda. Juga hampir tidak ada orang tua yang melakukan semedi, sehingga kaum muda tidak menemukan teladan pelaku semedi. Lagipula setiap rumah di jaman sekarang tidak ada ruang yang secara khusus dipakai untuk semedi.
Dahulu, rumah orang Jawa selalu mempunyai ruangan khusus untuk semedi yaitu senthong tengah. Ada tiga senthong, yaitu senthong kanan, tengah dan kiri. Senthong kanan dipakai sebagai ruang tidur, senthong kiri untuk menyimpan bahan makanan, dan senthong tengah sebagai tempat “suci” untuk semedi. Sekarang jangankan memiliki senthong bahkan untuk memiliki rumah yang cukup besar pun sudah kesulitan. Kebanyakan rumah sekarang kecil, hanya cukup untuk tidur sekeluarga. Untuk ruang tamu pun kadang tidak ada lagi.
Sejatinya warisan leluhur Jawa, yaitu semedi, yang hampir punah itu sangat penting. Dengan semedi atau meditasi seseorang masuk ke dalam keheningan dan keheningan ini yang membuahkan damai di hati. Akibat lebih lanjut adalah orang yang memiliki hati damai akan mampu menjalani hidup dengan damai, tidak mengalami tekanan batin atau stress. Tidak percaya? Cobalah!!!
Setidaknya perhatikan hal-hal yang menyebabkan orang mengalami tekanan batin atau stress. Apakah itu? Kesibukan! Orang merasa dikejar-kejar oleh pekerjaan, kebutuhan ekonomi, kepentingan politik, dsb. Akibatnya orang mengalami tekanan batin, hati atau hidupnya tidak damai.
Sayang kalau warisan semedi ini tidak dirawat (Jawa: dipepetri). Selayaknya semedi itu dijalani dan dikembangkan. Karena tidak pernah melakukan maka pasti akan terasa sulit menjalani semedi. Akan tetapi, dengan disiplin berlatih atau menjalani pada akhirnya akan menjadi ahli. Buah yang pasti segera dapat dipetik adalah merasakan damai di hati, sehingga hidup dengan segala kenyataannya: susah atau gembira, sakit atau sehat, sendirian atau bersama sahabat, bergerak atau istirahat, bekerja keras atau hanya duduk-duduk saja, semua itu dijalani dengan hati damai.
Terlebih lagi dengan tekun bersemedi maka akan merasa semakin dekat dengan Yang Ilahi, Tuhan. Semakin dekat dengan Tuhan semakin suci jiwa, hati, dan semakin murni niat atau motivasi diri. Lalu bagaimana cara menjalani semedi? Bisa dengan berguru lewat buku, tetapi juga tidak mustahil belajar sendiri.

Melewati kegagalan demi kegagalan akhirnya akan tercapai cara meditasi yang sesuai dengan diri sendiri.

Pondok Mardika
1042016