"Salam Sejahtera Alaikum"

Aneh ya dengernya? Untung saja belum pernah kudengar orang mengucapkan salam tersebut. "Salam sejahtera alaikum." Bagaimana coba, untuk menjawabnya. Memikirkannya bikin kepala tambah botak aja.
 
Sejatinya, judul di atas dibuat oleh Samsudin Berlian dalam kolom bahasa KOMPAS. 24 Januari 2004 kolom itu dibuat. Bagi Samsudin, ada kebiasaan aneh dilakukan orang Indonesia ketika mengucapkan salam. Apalagi dalam pidato-pidato resmi. Kebiasaan mengulang-ulang salam pasti terjadi.

Seolah-olah salam telah dipatenkan. Ada salam khusus Islam, salam merek Kristen, salamnya orang Hindu, Budha, Khonghucu, dan seterusnya. Denger-denger orang penghayat juga gencar mempromosikan "rahayu" sebagai kekhasan salam mereka. Nah, anehnya tuh di sini. Ketika ada yang mengembangkan usaha komoditas persalaman dengan mematenkannya.

Belum lagi dengan adanya keanehan serius lainnya. Ketika orang harus berteriak lantang, mengulang salam yang sama. Serasa belum puas diri ketika salam yang diucapkan hanya berbalas lirih penuh kelembutan dan kehormatan. Ucapan salam sudah bermetamorfosa menjadi pekik yel-yel para pemandu sorak.

Mengapa salam menjadi komoditas dengan upaya mematenkan? Padahal, salam sejatinya telah berkembang tanpa pamrih selama bermilenium oleh para pemakainya. Syukurlah Samsudin Berlian mengungkapkan kegelisahannya.

"Sebagai ucapan salam, salam atau shalom mengandung arti keutuhan atau kesempurnaan yang dimiliki seseorang, dalam bentuk kesehatan, kesejahteraan, keamanan, atau kedamaian. Assalamualaikum, salam bagimu, berisi harapan dan doa agar orang yang disalami itu memperoleh segala sesuatu yang dibutuhkannya, tiada berkekurangan. Salam ini diucapkan di seluruh mandala Timur Tengah, baik oleh yang beragama Islam, Yahudi, maupun Kristen", demikian penjelasan Samsudin.

Di Indonesia, demikian Samsudin menerangkan, oleh orang Kristen kata Shalom yang bertaburan di Alkitab diterjemahkan dengan istilah 'damai sejahtera'. Maknanya, setali tiga uang dengan dengan salam yang diyakini sebagian orang sebagai khas Islam: Assalamualaikum!

Kalau melongok Kamus Besar Bahasa Indonesia, di sana ada kata 'selamat' sebagai salam generik. Selamat sendiri berarti doa yang mengandung harapan supaya sejahtera. Sekarang, haruskah mengucapkan salam dengan makna yang sama beberapa kali?

Opini Samsudin cukup menggelitik. "Akan lebih baik kalau semua salam itu digenerikkan. Pebisnis komoditas persalaman akan gigit jari dan kita semua akan memperoleh kekayaan dan kebebasan baru dalam mengucapkan salam. Pilih salah satu, tak peduli siapa penerimanya, agama dan sukunya." Nah, setujukah Anda? |seti