SASMITA

Leluhur Jawa mewariskan kecenderungan seseorang memiliki kepekaan batin. Mengasah kepekaan batin itu merupakan kewajiban diri sendiri. Dengan memiliki kepekaan batin itu ia dapat menempatkan diri, bersikap dan bertindak secara baik bahkan tepat.

Memang bisa terjadi orang lupa. Kepada orang yang lupa layak disampaikan peringatan. Ada tiga jenis manusia yang berbeda tingkat kepekaan batinnya. Peringatan untuk menyadarkan dari kondisi lupa yang sedang dialaminya, disesuaikan dengan tingkat kepekaan batin yang dimilikinya.

Pertama, orang yang tidak peka tetapi pekok. Dalam bahasa Jawa diungkapkan dengan "dhupak bujang" Orang yang tidak peka, alias pekok, sensitivitasnya rendah itu seperti "bujang" atau hamba, budak. Ia harus diperintah dengan sejelas-jelasnya, ditunjukkan secara teliti atau detail, setelah itu baru ia dapat melakukan perintah atau petunjuk itu. Tanpa perintah atau petunjuk ia tidak akan memiliki inisiatif untuk bertindak. Sebagai contoh, seorang ayah yang menghendaki anaknya menyapu halaman yang kotor harus memerintah anaknya itu dengan perintah jelas "sapu halaman itu agar bersih, buang sampah daun-daun yang jatuh di halaman itu ke tempat sampah"

Kedua, orang yang cukup peka. Dalam bahasa Jawa diungkapkan dengan "semu bupati" Orang yang cukup memiliki kepekaan batin tidak perlu diberi peringatan atau perintah yang jelas,  Orang itu seperti halnya seorang bupati di hadapan sang raja. Ia cukup diberi isyarat atau petunjuk samar, dan sudah tahu kewajiban yang harus dilakukannya. Sebagai contoh, seorang ayah yang menghendaki anaknya menyapu halaman yang kotor cukup mengatakan "nak, itu ada sapu" dan si anak itu pun tahu bahwa ia berkewajiban menyapu.

Ketiga, orang yang memiliki kepekaan batin. Dalam bahasa Jawa diungkapkan dengan "esem mantri" Seseorang yang memiliki kepekaan batin, sensitif terhadap gelagat, ia seperti seorang mantra (lebih tinggi kedudukannya daripada bupati) di hadapan sanga raja. Bahkan senyum sanga raja pun ia mampu menafsirkan makna atau maksudnya. Sebagai contoh, seorang ayah yang menghendaki anaknya menyapu halaman yang kotor cukup memandang sapu dan si anak tahu bahwa ia berkewajiban menyapu.

Kepekaan batin seseorang akan berpengaruh pada kepekaan sosial, sikap dan tindak lakunya kepada orang lain. Orang yang memiliki sensitivitas kewajiban yang harus ditunaikan cenderung membahagiakan orang lain. Sebaliknya orang yang pekok justru menjadi beban masyarakat. Siapa peka dan siapa pekok di masyarakat kita dewasa ini?

Ki Atma