Caraka Wacana


Ha na ca ra ka
da ta sa wa la
pa dha ja ya nya
ma ga ba tha nga
Ada utusan
Saling bertengkar
Sama-sama sakti
Sama-sama menyerahkan [hidup] hingga matinya [untuk Sang Tuan]

Alkisah
Ada dua hamba setia bernama Dora dan Sembada. Keduanya mengabdi pada Aji Saka, sang Guru. Ketika Sang Guru pergi bersama Dora, Sembada diminta menjaga sebilah keris sakti dengan sebuah wasiat. Tidak boleh seorang pun mengambil kalau bukan Sang Guru sendiri. Ditaatilah perintah itu dengan sepenuh hati.

Kala pengembaraan selesai,  Aji Saka bertitah kepada Dora supaya mengambil keris sakti yang dijaga Sembada. Tidak ada kata gagal dalam perutusan. Dora diwajibkan Sang Aji supaya berhasil membawa keris sakti. 
Dengan mantap, Dora pun berangkat, menemui Sembada. Dengan tegas, disampaikanlah pesan Sang Aji kepada Sembada. Tidak mau kalah juga, Sembada mengingatkan Dora akan wasiat yang ditinggalkan kepadanya. “Hanya Sang Aji Saka sendiri yang berhak mengambil keris sakti.” Keduanya saling bersikeras, tidak ada yang mau mengalah. Masing-masing berpegang pada kebenarannya sendiri-sendiri. Maka, terjadilah perang batin, habis-habisan. 

Sembada dengan jurus-jurus andalannya melawan kuasa kepentingan diri. Tak kalah sengit, Dora pun bertempur dengan melawan sikap ingkar janji. Masing-masing menunjukkan ketaatan dan kesetiaan kepada Sang Aji hingga tetes darah yang terakhir. Keduanya pun mati –si kepentingan diri dan sikap ingkar janji, lambang kemanusiaan lama! Kemanusiaan lama mereka –berkat ketaatan dan kesetiaan– akhirnya menjadi bangkai.

Lelayu dari kedua utusan yang setia itu sampailah ke telinga Sang Aji Saka. Hati Sang Aji pun terharu, mengenang kebaktian hidup kedua utusannya. Dengan cipta weningnya, Aji Saka kemudian membuat peringatan tentang kebaktian kedua utusannya. Ingatlah wahai semesta, ha na ca ra ka, ada utusan. Itulah kisah lahirnya huruf Jawa.

Sebagai orang Jawa, mengenang kisah hanacaraka karenanya menjadi keharusan. Seperti halnya sebagai orang Kristen, saya mengenang tindakan suci Tuhan Yesus kala memecah roti dan membagikannya dalam Sakramen Perjamuan Suci. Arti sebagai Jawa dan Kristen, bagi saya bertemu di ruang ini.
Pada kesempatan lain kisah hanacaraka telah saya kenangkan melalui tulisan “Yang Mengutus dan Yang Diutus: Bercermin dari Filsafat Hanacaraka” dalam Menyimak Tuturan Umat (Pudjaprijatma dan Dirdjosanjoto, dkk – penyunting), Salatiga: Pustaka Percik dan Sinode GKJ (2010). 

Pada kesempatan ini kisah yang sama ingin saya kenang melalui bhakti Sang Caraka Wacana pada Sabda Suci. Tujuan dari pengenangan ini tidak lain hanya demi hormat pada Sang Wacana yang menjadi manusia. Bila pengenangan pertama baru menyentuh level kesadaran budi tentang eksistensi Hyang Hana, dalam pengenangan ini diharapkan menembus level tindakan, mempersembahkan kebaktian kepada Sang Wacana, layaknya seorang caraka.

Siapakah sang caraka wacana?

Caraka berarti duta atau utusan. Wacana berarti firman atau sabda. Sang Caraka Wacana bisa disebut juga Sang Duta Wacana, seorang utusan firman. Gambaran seorang pribadi yang memercayai Firman Allah sekaligus yang dipercaya Sang Sabda menjadi pelayannya. Ibarat Dora dan Sembada yang memercayai dan dipercaya Aji Saka.

Orang bisa dipercaya ketika telah menunjukkan kualitas hidupnya. Kualitas seorang Caraka Wacana akan ditentukan pada sejauh mana ia memiliki telinga untuk mendengarkan tegur sapa Sang Wacana, Sang Firman Hidup. Pada tahap berikutnya akan ditentukan pada bagaimana Sang Caraka Wacana menempuh jalan kebaktian kepada Sang Wacana Suci. |seti