RITME



Saya lebih suka memainkan alat musik ritmis, tinimbang alat musik melodis-harmonis yang memang saya ndak jago. Ketika dolanan band semasa SMA, saya kebagian jatah menggebuk drum. Ketika ikut main musik semasa kuliah, saya sering kebagian main ketipung atau jimbe dan sejenisnya. Termasuk memainkan kendhang/gendang ketika masa kanak dan remaja di sebuah kelompok kesenian jathilan di kampungku. Gendang kembali saya mainkan ketika berada di tengah grup keroncong 'kekinian' semasa kuliah. Sampai sekarang masih bermimpi bisa memainkan seperangkat alat musik perkusi dalam sebuah orkestra. Mimpi yg mungkin tak akan pernah tergapai. hehehe...

Ritme adalah ketukan. Satuan tempo dalam durasi tertentu. Kata guru musik semasa aku SMP, ketika kita mau menggubah lagu, kemampuan dasar yang lebih dibutuhkan bukanlah pertama-tama sense of melody, melainkan sense of rhytm.  Seindah apapun jalinan nada dan progresi akord, jika ketukan berantakan, menjadi tak indah lagi lagu itu. Sejak itu aku sadar, ritme musik atau nyanyian amatlah penting. Walau penting, banyak orang mengabaikan atau kurang menghiraukannya. Termasuk aku. Pernah kami - grup band abal-abal - njajal rekaman sebuah lagu. Tiba giliranku take drum. Di telingaku terpasang headphone yang membunyikan ketukan ritmis teratur yang bernama metronom. Aku harus mengikuti ketukan metronom itu. Stabil. Presisi. Susah banget. Aku sampai harus take berulang kali, sebelum akhirnya menyerah dan memilih ndak usah pake metronom aja. hehehe.....

Penelitian menunjukkan bahwa kondisi ritmik dan teratur adalah kondisi yang dapat membuat manusia memusatkan perhatian. Musik ritmis adalah musik yang dapat menolong manusia berkonsentrasi dalam ruang kontemplasi. Lihatlah misalnya cara umat Budha berdoa dengan cara memukul-mukul kayu secara ritmik. Atau tengoklah cara umat muslim menghitung butir-butir tasbih dalam rapal doa yang ajeg dan berulang. Wiridan. Teratur. Ritmik. Sampai akhirnya membawa mereka pada keadaan terpusat. Bahkan, musik-musik yang dapat membuat orang mencapai keadaan trans adalah musik ritmis. Ambillah contoh alat musik yang dominan dimainkan orang-orang Afrika zaman dulu, terutama di suku-suku primitif.

Ritme adalah soal siklus, pengulangan serta keteraturan. Hidup ini memang memiliki ritmenya. Semakin teratur, hidup semakin sehat. Mengatur nafas bukanlah omong kosong. Itu memengaruhi sistem kinerja tubuh. Zaman ini Tai Chi dan Yoga semakin laris. Seiring tumbuhnya kesadaran manusia akan pentingnya keteraturan nafas. Tubuh kita memiliki ritmenya. Jika ritme itu terganggu apalagi rusak, terganggu pula tubuh kita. Lihatlah bagaimana ritme kerja kita, ritme tidur kita, ritme rekreasi kita, ritme makan kita, dst. Organ tubuh kita - tidak hanya jantung - bekerja dalam ritme tertentu. Semua butuh keteraturan. Keteraturan bukan berarti kebakuan dan kekakuan, lho. Bahkan banyak gereja yang menghidupi ritme ibadah dalam wujud kalender gerejawi.

Terakhir, aku jadi ingat sepakbola. Ada nama-nama kondang sekelas Zinedine Zidane, Xavi Hernandes, Paul Scholes, hingga Andrea Pirlo. Mereka adalah sedikit di antara sekian banyak pemain bola yang punya tugas sekaligus keahlian "mengatur ritme permainan". Di dalam penguasaan mereka, bola bisa begitu cepat bergulir, langsam, maupun lambat. Mereka orang yang paling jago membaca situasi, kapan bola harus ditahan dan kapan harus digulirkan. Kepada siapa bola harus dioper. Dengan cara apa bola harus dimainkan. Oleh orang-orang hebat seperti merekalah kadang hasil pertandingan akan dipengaruhi.

Ya, ritme memang penting. Bahkan Tuhan pun dihayati sebagai sosok yang memiliki ritme. Enam hari lamanya Ia berkarya, mencipta. Namun pada hari yang ketujuh, Ia beristirahat. Hari Sabat. Hari untuk berhenti. Agar hidup ini seimbang, ritme memang perlu dijaga.

_argo