rekreasi


Beberapa hari yang lalu saya demam. Gemreges. Suhu badan naik, pusing, selera makan kacau balau. Bukan hanya karena cuaca yang sedang tidak bersahabat, melainkan juga karena sudah waktunya sakit. Minum obat sudah, kerokan sudah, minum jahe anget sudah... tapi tetap saja gemreges. (belum periksa ke dokter, karena antri pasien BPJS puanjaaang...)

Di hari ke lima, saya bulatkan tekad untuk pergi ke pantai. Orang menyebutnya rekreasi. Saya umbar mata ini sebebas-bebasnya memandang limpahan air laut dan bentangan langit biru. Saya biarkan telinga ini bebas mendengar gemuruh ombak menderu dan desisan angin. Amboy, elok nian... Amboy, bebas nian... Orang menyebutnya rekreasi. Re itu kembali, kreasi itu mencipta, berkarya. Mengambil energi semesta untuk meneruskan langkah dalam ranah kembali mencipta, kembali berkarya. Mencoba menanggalkan ciptaan yang telah lalu yang berkasnya memenuhi sekat-sekat otak. Orang Jawa yang sok kebelandaan menyebutnya dengan pelesir. Pleasure... bersenang-senang. Hepi-hepi.

Dan sungguh ajaib, sepulang dari pantai rasa gemreges itu sirna. Ternyata sakit itu bukan hanya butuh obat tapi juga butuh rekreasi. Pelesir. Karena hati yang gembira adalah obat yang mujarab! Syukur kepada Tuhan! 

-dpp