Perjumpaan di Bawah Purnama Paskah





Malam ini kami bersua. Bukan sebagai kekasih, tetapi mungkin lebih dari itu. Ia melayangkan pandangnya menyapu bintang-bintang di langit. Tak terasa air matanya menetes. Kuusapkan sapu tangan di pipinya. Ia tersenyum kecil.

“Esok, aku tak lagi menjumpai indahnya taburan bintang seperti ini,” katanya lirih.

“Nikmatilah selagi kau diberi kesempatan. Puaskanlah hatimu memandangi bintang.”

“Sejak kecil aku memang sangat senang memandangi bintang seperti ini. Mungkin karena ibuku memberikan aku nama Lintang. Seolah dari sanalah aku berasal...”

“Namamu indah. Kau beruntung punya nama yang indah.”

“Ah, tapi hanya namaku saja yang indah. Jalan hidupku tak seindah namaku.”

“Hush... siapa bilang? Kehidupan ini adalah anugerah. Kehidupan ini adalah keindahan.”

“Tapi tidak denganku. Kehidupanku laknat! Kutuk! Dia! Orang itu telah membunuh ibuku... Dan dengan tangan iblis, aku telah membunuhnya juga setahun yang lalu! Dendamku terbalas. Dan kini laknat itu harus dibayar hukuman mati. Esok aku akan mati. Esok aku tak lagi dapat melihat bintang. Hidupku benar-benar laknat!” Tak kuasa ia menangis dan rebah di dalam dekapanku. Tubuh kurusnya bergetar hebat.

“Tuhan itu melukis kehidupan bukan dengan mata tertutup. Ia melihat sendiri apa yang Ia lukis dan semua yang terlukis sungguh sebuah karya yang sempurna. Aku ingin menemani sisa harimu. Aku ingin bersama-sama denganmu merasakan sedih dan laramu. Aku ingin menjadi bagian dari lukisan kehidupanmu.”

“Sam, apa kau ngelindur? Sudahlah, tugasmu sudah berakhir. Kau adalah pengacara yang telah berupaya menyelamatkanku. Tapi karena aku begitu hina, semuanya sia-sia. Pulanglah saja. Aku ingin sendirian menikmati bintang untuk yang terakhir kalinya.”

Hening begitu lama. Tak ada kata, yang tersisa hanya bunyi jangkrik yang mengerik. Halaman lembaga pemasyarakatan begitu sunyi menyisakan kami berdua yang diam membunuh waktu.

“Lintang... mau kah kamu... menikah denganku?” kata-kata itu memecah keheningan. Tergetar lirih dari rongga mulutku. Dan itulah kata-kata terakhir di malam itu. Malam di mana kami bersama-sama menghayati purnama Paskah.



full-moon-clipart-1



Esok hari, aku menyaksikan sendiri Lintang tersenyum untuk yang terakhir kalinya. Ia menolak mengenakan punutup mata. Ia memandangku saat timah panas menghujam tubuhnya. Ia tersenyum lepas, bukan senyum kecil, tetapi senyum kerinduan. Ia tersenyum dengan memakai gaun pengantin. Ia telah melihat indahnya goresan warna kehidupan yang telah berakhir. Dan aku pun menjadi bagian dari goresan kehidupannya.  Lintang, istriku, pergilah, kembalilah menjadi bintang di angkasa.



dpp, 01042016



(ilustrasi diambil dari lukisan karya Viviana Gonzalez, Woman in Red Walking to The Moon)