PERIH HATI DEWI KUNTI

Malam semakin larut, dingin terasa merajut raga, ketika Kunti berhadapan dengan buah hatinya, Karna.  Sudah lama ia merindukan perjumpaan hanya berdua degan sang putra.  Baru malam ini mimpinya terpenuhi. Lirih ia berkata kepada putranya, Karna, agar membatalkan perang tanding di Kurusetra melawan adiknya, Arjuna. Bagaimana pun kalian adalah bersaudara. Aku ibu kalian. Akan tetapi Karna teguh pada pendiriannya. Ia harus membuktikan dirinya sebagai ksatria yang tidak layak menghindar dari kewajiban jiwa. Ia telah dimuliakan oleh Duryudana, dan sekarang adalah saatnya untuk membalas budi darma. Ia harus berperang di pihak Kurawa. Ia harus tega berhadapan sebagai lawan dengan Arjuna di medan Kurusetra.

Sepi. Tidak ada diantara Karna dan Kunti yang berkata. Sepi. Air mata Kunti mulai membasahi pipi. Tetes demi tetes mengalir untuk mencuci hatinya yang perih. Kunti terisak lembut. Karna menunduk, larut. Dalam isak yang makin menyengalkan nafas berulang Kunti meminta kepada Karna, bahkan ia hampir mengiba, memohon kepada putranya, namun Karna menolaknya. Bahkan Karna akhirnya mengungkit kesalahan lama, betapa ia hanyalah bayi tidak berharga. Dibuang oleh ibunya, ditemukan oleh kusir kereta lalu dipiara, diasuhnya sais kereta dan akhirnya dimuliakan oleh Duryudana. Dia telah dianugerahi Negara Awangga. Ia harus membalas jasa agar imbas, tidak ada yang berhutang, tidak ada yang memberi hutang. Tangis Kunti pecah. Hatinya patah. Harapannya musnah. Karna menyembah lalu pergi meninggalkan Kunti yang semakin tenggelam dalam perih hati yang semakin pedih.

Hingga pagi Kunti masih duduk bersimpuh. Raganya lemas karena hatinya yang terkuras. Ia merasakan kegelapan menyelimuti pemandangan. Ia telah gagal mencegah perang. Ia tidak rela melihat Arjuna terluka. Akan tetapi ia juga tidak tega melihat kematian Karna. Keduanya adalah anak-anaknya. Hati Kunti terasa perih. Kenyataan memang tidak bisa ditolak. Di Kurusetra dua orang bersaudara saling beradu sakti hingga salah satu mati. Sungguh perih hati Kunti

Tangis Kunti kini berganti tangis ibu pertiwi. Kunti tahu salah satu anaknya berada di pihak yang salah, Meskipun begitu ia mencintai anak-anaknya. Ibu pertiwi mencintai buang kandungannya. KPK, BPK dan penguasa DKI adalah buah kandungannya. Ibu pertiwi mencintai mereka. Mengapa mereka harus beradu nyawa? Mengapa perang saudara harus terjadi di negeri ini. Mengapa kebenaran tidak menampakkan diri tanpa ada yang harus menjadi kurban? Perih hati Kunti, menangis ibu pertiwi.


Ki Atma