Perbatasan


Minggu, 10 April 2016, pukul 09.00 WIB aku sampai di perbatasan. Tepatnya perbatasan antara Daerah Istimewa Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah. Sengaja, aku berhenti di perbatasan itu. Untuk sekedar duduk dan termenung.

Perjalanan yang melelahkan, ternyata. Setelah melintasi medan naik turun perbukitan Gunungkidul via Dlingo dengan mengandalkan motor sport tua dua langkah (2  stroke). Benar-benar menjadi pengalaman yang unik. Unik karena baru kali pertama menjajal kebengisan motor 2 tak dengan medan penuh liukan naik-turun. Dengan motor 6speed, tentu besar harapan perjalanan lebih cepat.

Kenyataannya justru sebaliknya. Perjalanan terasa lama dan lebih lambat dari biasanya. Ternyata itu karena kemelekatan gaya berkendara motor empat  langkah (4 stroke) yang selama ini menjadi habitus.

Aku sadar kalau memang belum familier dengan karakter motor sport 2 tak yang semestinya bisa lari lebih kencang. Di perbatasan Kabupaten Gunung Kidul dan Kabupaten Wonogiri, aku menepi untuk menyadari. Lambatnya perjalanan bukan karena kesalahan pada sang kuda besi, tetapi lebih karena sang pengendara yang belum mampu berakselerasi dengan kecepatan tinggi. Menyadari itu aku pun tersenyum sendiri, sembari menjepret motor generasi Z keluaran 1989, yang aku parkir di pinggir jalan sebelah kiri.

Aku melintasi perbatasan. Aneh, tiba-tiba ada perasaan yang berbeda. Padahal sudah seringkali jalan yang sama ini aku lewati. Aku pun duduk dan termenung lagi.

Pandanganku tertuju pada sungai di dekat situ. Sejurus kemudian, entah mengapa angan melayang pada kisah pembaptisan Tuhan di Sungai Yordan. Sungai yang menjadi perbatasan antara Israel dan Yordania. Sungai yang menjadi gerbang lintasan untuk memasuki tanah perjanjian.

Mengapa kisah pembaptisan Tuhan terjadi di sungai Yordan? Apakah ada kaitan dengan makna perbatasan dan lintasan? Atau arti baptisan sendiri tidak jauh-jauh dari makna perlintasan dan perbatasan itu?

Dengan baptisan, antara sorga dan bumi tiada berjarak lagi. Batasan sorga dan bumi telah dilewati. Sorga dan bumi menjadi begitu dekatnya. Tidak semestinya orang ribut soal sorga dan bumi lagi. "Aku adalah penghuni sorga dan kamu adalah penghuni neraka!" Kalimat-kalimat yang tak pantas lagi diucap bak bunyi ceracap.

Ingat, perbatasan itu telah dilewati. Langit itu telah terbuka dan dari sorga terdengar suara: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." (Lukas 3:22). Suara yang memaklumkan adanya perkenan ilahi yang memasuki realitas insani. |seti