Pembimbingan "lelaku"

Dalam peristiwa keseharian ada saatnya kita diharuskan berada di dekat seseorang yang sedang menemui ajal, yang dalam bahasa Jawa disebut “lelaku.” Orang itu sedang memulai perjalanan. Perjalanan untuk pulang. Pulang kembali. Pulang ke asal-mula-jadi. Pada waktu ada seseorang yang sedang “lelaku” biasanya pemimpin agama akan memberi tuntunan agar orang itu meninggal dengan tenang, dan perjalanan pulang ke keabadian dimulai dengan arah yang benar.

Beberapa hari yang lalu, ada seorang warga gereja yang sedang “lelaku.” Di sekelilingnya para anggota keluarga, sanak-saudara, kerabat dan tetangga menunggu sambil berdoa. Akan tetapi tidak ada pendeta. Tidak ada yang membimbing saudara yang akan meninggal itu agar memulai perjalanan dengan tenang dan terarah. Meskipun para penunggu itu kebanyakan juga beragama Kristen tetapi tidak ada yang berani memimpin doa. Mereka hanya saling memandang saja.

Di antara para penunggu itu ada pak Mudin, yang juga tetangga. Ia terbiasa membimbing orang yang lelaku dengan cara Islam. Akan tetapi yang akan meninggal ini beragama Kristen. Tidak ada yang membimbing. Ia memandang para penunggu yang beragama Kristen tetapi tidak ada satu orang pun yang bergerak membimbing orang yang sedang menjemput maut itu. Tiba-tiba saja pak Mudin itu bergerak mendekat ke saudara yang sedang lelaku itu. Ia tidak bertanya terlebih dahulu kepada para penunggu yang beragama Kristen, apakah diijinkan untuk membimbing orang itu atau tidak. Ia dengan spontan saja bergerak mendekatkan mulutnya ke telinga orang yang sedang “lelaku.” Para penunggu, terutama yang beragama Kristen mengira, pak Mudin akan membimbing orang itu dengan cara Islam. Ada yang merasa masgul mengapa ia tidak memberanikan diri melakukan pembimbingan itu sebisanya. Sekarang sudah terlambat. Pak Mudin sudah mendekatkan mulutnya ke kuping orang yang “lelaku” itu. Akan tetapi, semua yang menunggu kaget, mereka semua terkesiap, sebab pak Mudin dengan jelas membisikkan ke telinga orang yang lelaku itu kata-kata “haleluya, haleluya, haleluya…..” berulang kali kata itu diulangnya hingga waktu cukup lama.

Semoga dengan damai dirimu kembali ke asal-mula-jadi saudaraku, diiringi pembimbingan pak Mudin tetangga kita yang menyebut berulang kali “haleluya”